UNAMIN Kirim Dua Instruktur Ikuti Pelatihan Instruktur Nasional Regional Indonesia Timur

Sorong, 29 September 2026 — Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN), melalui Lembaga Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPAIK), mengirimkan dua instruktur untuk mengikuti Pelatihan Instruktur Nasional (PINAS) Regional Indonesia Timur yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan, pada 25–29 September 2026.

Dua perwakilan UNAMIN yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Dr. Arie Anang Setyo, M.Pd. dan Imran, S.Pi. Keduanya membawa mandat dari Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat Daya, serta penugasan dari Wakil Rektor II UNAMIN.

Keikutsertaan ini menjadi bagian dari komitmen UNAMIN dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia, khususnya di bidang perkaderan, dakwah, serta pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

Menguatkan Kompetensi Instruktur di Era Perubahan

PINAS Regional Indonesia Timur menjadi ruang pembelajaran dan penguatan kapasitas bagi para instruktur Muhammadiyah dalam menghadapi berbagai perubahan sosial dan perkembangan peradaban. Salah satu materi strategis dalam kegiatan ini disampaikan oleh Prof. H. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D., Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dengan tema “Krisis Makna & Kebenaran”.

Materi tersebut mengajak peserta merefleksikan berbagai tantangan yang muncul akibat perkembangan Artificial Intelligence (AI), otomatisasi, perubahan demografi, disinformasi, dan globalisasi ide. Pesan penting yang muncul dari pembahasan tersebut adalah bahwa perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan manusia dalam mempertahankan makna, nilai, kebenaran, nalar kritis, dan kemanusiaan.

“Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi manusia tetap membutuhkan nilai, makna, dan kebenaran. Di situlah AIK dan kaderisasi Muhammadiyah menemukan relevansinya.”

Dalam konteks perkaderan Muhammadiyah, tantangan tersebut menuntut hadirnya instruktur yang tidak hanya menguasai materi perkaderan, tetapi juga mampu membaca perubahan zaman dan membangun kemampuan kader untuk merespons persoalan kehidupan secara kritis, beretika, dan berorientasi pada kemajuan.

PTMA sebagai Basis Dakwah dan Kaderisasi

Dalam salah satu materi PINAS juga ditegaskan posisi strategis Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dalam pengembangan dakwah dan kaderisasi. Salah satu paparan mengenai tugas dan tanggung jawab pimpinan PTMA menekankan pentingnya pembinaan dan pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di perguruan tinggi, serta pembinaan dan penyelenggaraan dakwah dan kaderisasi Muhammadiyah.

Hal tersebut sejalan dengan peran LPAIK UNAMIN dalam mengembangkan sistem pembinaan AIK yang tidak hanya berorientasi pada aspek pengetahuan, tetapi juga membangun karakter, budaya kampus, kepemimpinan, dan keterlibatan sivitas akademika dalam kehidupan persyarikatan.

Potensi Besar PTMA untuk Kaderisasi

Dalam kegiatan tersebut juga dipaparkan data potensi PTMA per September 2026 yang menunjukkan jumlah sekitar 721.053 mahasiswa, 20.911 dosen, dan 2.527 program studi. Data tersebut menggambarkan besarnya potensi ekosistem PTMA dalam mendukung dakwah dan kaderisasi Muhammadiyah. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi kader yang memiliki kompetensi keilmuan, karakter, kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, dan komitmen terhadap nilai-nilai Muhammadiyah.

Bagi UNAMIN, penguatan kapasitas instruktur menjadi semakin penting untuk mendukung pengembangan kader di lingkungan perguruan tinggi dan Persyarikatan Muhammadiyah, khususnya di wilayah Papua Barat Daya.

Membawa Semangat PINAS ke UNAMIN

Keikutsertaan Dr. Arie Anang Setyo, M.Pd. dan Imran, S.Pi. diharapkan tidak berhenti pada pengalaman individual, tetapi dapat dilanjutkan melalui diseminasi dan transfer pengetahuan kepada pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta kader Muhammadiyah di lingkungan UNAMIN. Hasil pembelajaran selama PINAS dapat menjadi bahan untuk memperkuat berbagai program LPAIK, terutama dalam pengembangan perkaderan, dakwah kampus, pembinaan AIK, penguatan instruktur, dan inovasi metode kaderisasi yang sesuai dengan karakteristik generasi muda.

Di tengah perkembangan teknologi dan hadirnya kecerdasan artifisial, kaderisasi Muhammadiyah perlu terus bergerak dari sekadar transfer pengetahuan menuju proses pembentukan manusia yang mampu berpikir, memaknai, berkolaborasi, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Dengan demikian, keikutsertaan dua instruktur UNAMIN dalam PINAS Regional Indonesia Timur menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperkuat AIK, kaderisasi, dan dakwah Muhammadiyah, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan masa depan. Upaya ini sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan ke-4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kompetensi instruktur sebagai bagian dari pendidikan sepanjang hayat, Tujuan ke-16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan nilai, kejujuran, dan kepercayaan di tengah tantangan disinformasi, serta Tujuan ke-17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas wilayah antar-Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam PINAS Regional Indonesia Timur. (AAM)

Share this Post