Bukan Cuma Soal Toga: Momen Wisuda UNAMIN yang Bikin Terharu
Sorong, 27 Juni 2026 — Pernah nggak, lagi rebahan sambil scroll HP, terus tiba-tiba lewat video wisuda — ada anak yang turun dari panggung cuma buat meluk mamanya, dan tanpa sadar matamu ikut berkaca-kaca? Padahal kamu nggak kenal orangnya. Nah, momen seperti itu beneran terjadi di wisuda UNAMIN beberapa waktu lalu. Dan jujur saja: bukan cuma satu aula yang ikut menangis, netizen pun nggak ketinggalan.
Selasa, 5 Mei 2026, Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) menggelar Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana dan Magister Tahun Akademik 2025/2026 di Aula Antares, Vega Prime Hotel & Convention, Kota Sorong. Dari luar, kelihatannya seremoni biasa: toga, tepuk tangan, dan lautan foto. Tapi yang bikin hari itu berbeda justru cerita yang ada di balik jubah hitam tadi.
Saat Langkah Tegap Mendadak Melunak
Suasana khidmat berubah seketika begitu pembawa acara mempersilakan para lulusan terbaik untuk menjemput orang tua mereka dari kursi undangan. Langkah kaki yang tadinya tegap mendadak melunak saat mereka mendekati ayah dan ibu masing-masing. Ada seorang lulusan magister yang langsung memeluk erat ibunya. Di tengah riuh tepuk tangan, sang ibu tak kuasa membendung air mata.
Pelukan itu seakan merangkum semuanya: doa-doa di sepertiga malam, lelah yang jarang diceritakan, dan pengorbanan bertahun-tahun yang melebur jadi satu rasa syukur. Di situ kita diingatkan satu hal sederhana — toga itu memang dipakai satu orang, tapi diperjuangkan oleh banyak hati.
Toga untuk Mama dan Bapak yang Selalu di Hati
Tapi momen yang paling bikin netizen mewek datang dari Tri Westi Iriandini, S.Pd., lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Di atas podium, ia tidak sekadar bercerita soal kelulusan. Ia bercerita tentang mamanya, Fatma Basalama, yang menjalani dua peran sekaligus dan membesarkannya seorang diri setelah sang ayah berpulang.
“Hari ini, jika Bapak bisa melihat dari atas sana, saya ingin beliau tahu bahwa Mama adalah alasan saya bisa sampai di titik ini. Semua yang saya capai hari ini adalah hasil dari perjuangan Mama.”
Dengan suara yang menahan haru, Tri Westi lalu mempersembahkan toga yang ia kenakan kepada kedua orang tuanya.
“Toga ini saya persembahkan untuk Mama dan untuk Bapak yang selalu hidup di hati saya sampai saat ini.”
Yang membuat ceritanya makin istimewa, kisah Tri Westi tak berhenti di air mata — ada kabar membanggakan di ujungnya. Ia sudah diterima sebagai pengajar Bahasa Inggris di CITPAC Wittaya Krong Penang School, Thailand, dan akan mulai mengajar pada Juni 2026. Menariknya, ia merasa kampus ikut menemani langkahnya sampai sejauh itu.
“UNAMIN tetap merangkul saya, bahkan hingga membiayai tiket perjalanan saya ke Thailand. Sebuah tindakan yang bagi saya bukan hanya sekadar bantuan, melainkan wujud kasih yang nyata, kepercayaan, dan juga kebanggaan terhadap anak didiknya.”
Buat Tri Westi, UNAMIN bukan cuma tempat menimba ilmu, tapi rumah yang tetap merangkul bahkan setelah ia berstatus alumni. Sebuah pengingat bahwa kampus yang baik tidak melepas lulusannya begitu saja di pintu keluar.
Si Lulusan Terbaik dan Filosofi ‘Gelas Kosong’
Kalau Tri Westi membuat kita mewek, Yusuf Amir Ardiansyah membuat kita berpikir. Lulusan Program Studi Ilmu Hukum ini dinobatkan sebagai lulusan terbaik — sesuatu yang, menurut pengakuannya, sama sekali tidak ia targetkan. Target utamanya cuma dua: lulus tepat waktu dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Gelar lulusan terbaik? Itu bonus yang tak disangka-sangka.
Rahasianya terdengar sederhana, tapi tidak gampang dijalani: belajar di mana saja. Tidak cuma di ruang kelas, tapi juga dari buku, dari podcast di YouTube, sampai berdiskusi dengan AI untuk menggali sudut pandang baru atas hal yang ia tekuni. Satu prinsip yang ia pegang teguh:
“Selayaknya manusia itu harus seperti gelas kosong sehingga akan menyerap terus pengetahuan yang terus berkembang.”
Di tengah banyaknya anak muda yang waktunya habis untuk media sosial dan game online, Yusuf justru melihat peluang. Menurutnya, di situlah ruang terbuka bagi siapa pun yang mau terus belajar untuk tampil paling kompetitif. Buktinya ada pada dirinya sendiri.
Jadi, Kenapa Momen Ini Bikin Banyak Orang Terharu?
Karena di balik toga dan angka IPK, yang sebenarnya kita lihat adalah cerita manusia: anak yang berbakti, orang tua yang berjuang, dan mimpi yang akhirnya jadi nyata. Itulah kenapa potongan video dan foto momen ini cepat menyebar — orang tidak perlu kenal siapa-siapa untuk ikut merasakannya.
Nah, buat kamu yang sekarang masih di tengah perjalanan — yang skripsinya baru bab dua, yang revisinya numpuk, yang kadang ragu bakal sampai garis akhir — ingat baik-baik: toga yang nanti kamu pakai itu bukan cuma milikmu. Ada orang tua di rumah yang diam-diam ikut berjuang bareng kamu.
Dan kalau hari itu tiba nanti, jangan lupa pesan dari Tri Westi:
“Untuk teman-teman yang sedang berbahagia pada hari ini, selamat atas wisudanya. Semoga kita menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Jangan lupa peluk orang tuanya dan ucapkan terima kasih.”
Sampai ketemu di podium itu, Sobat Unamin. Pelan-pelan saja, tapi jangan berhenti.(AF)