Alumni UNAMIN Tembus Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi

Sorong, 04 Juni 2026 — Tidak semua orang berani mengangkat tangan ketika kesempatan itu datang. Tapi Satya Agi Arliyani, alumni Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) lulusan 2026, membuktikan bahwa keberanian itu tumbuh dari proses — dari ruang kelas, dari lorong kampus, dari rapat organisasi yang panjang, dan dari nilai-nilai yang ditempa selama empat tahun di tanah Sorong.

Kini, Satya menjadi bagian dari Tim Ekspedisi Patriot — sebuah program bergengsi di bawah Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia yang mengemban misi pemberdayaan masyarakat di wilayah-wilayah transmigran di pelosok nusantara. Sebuah panggung nasional, yang diinjak oleh alumninya.

Perjalanan Satya ke FISIP UNAMIN bukan kebetulan. Semasa SMK, ia mengambil jurusan Administrasi Perkantoran — dan rasa ingin tahu itu tidak berhenti di sana. Ia ingin mempelajari lebih dalam, lebih luas, melampaui tembok kelas. Maka ketika tahu UNAMIN memiliki Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dengan Program Studi Ilmu Administrasi Negara di dalamnya, pilihannya sudah bulat.

"Saya memilih UNAMIN karena ada FISIP, dan di dalamnya ada Prodi Administrasi Negara. Saya ingin meneruskan jurusan yang saya ambil waktu SMK yaitu Administrasi Perkantoran, tapi ingin mempelajarinya lebih dalam."

Keputusan itu terbukti tepat. Di Prodi Administrasi Negara, Satya menyelami mata kuliah yang membuka wawasannya terhadap bagaimana negara bekerja: Etika Administrasi, Pelayanan Publik, Pengembangan Organisasi, hingga Komunikasi Organisasi Publik. Ilmu-ilmu itu kini ia terapkan langsung di lapangan.

Empat tahun di UNAMIN bukan hanya soal mengisi lembar absensi. Satya aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Administrasi — ruang yang mengajarnya memimpin, berkoordinasi, dan bernegosiasi. Namun satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika ia terpilih dalam program Pertukaran Mahasiswa Nasional, dan ditempatkan di Universitas Negeri Makassar.

Jauh dari kampung halaman, di kampus yang asing dengan wajah-wajah baru, Satya belajar sesuatu yang tidak ada di silabus: adaptasi, kemandirian, dan kemampuan membaca situasi. Pengalaman itu menjadi bekal tak ternilai yang kemudian ia bawa ke program nasional yang kini dijalaninya.

"Pengalaman paling berkesan itu banyak. Salah satunya saya pernah mengikuti pertukaran mahasiswa nasional, dan saya dapat di kampus Universitas Negeri Makassar."

Program Tim Ekspedisi Patriot merupakan inisiatif Kementerian Transmigrasi untuk menggerakkan pemuda-pemudi terbaik Indonesia guna mendampingi dan memberdayakan masyarakat di kawasan transmigran. Bergabung dalam program ini bukan hal mudah — namun Satya membuktikan bahwa bekal akademik dan pengalaman organisasinya lebih dari cukup.

Sebagai anggota tim, Satya membawa perspektif seorang administrator publik: memahami tata kelola, peka terhadap kebutuhan masyarakat, dan terampil berkomunikasi dalam konteks organisasi. Nama UNAMIN pun ikut melambung bersama langkah-langkahnya.

Kepada adik-adik yang masih duduk di bangku UNAMIN, Satya menitipkan pesan yang sederhana namun dalam:

"Jadikan kesempatan belajar ini sebagai proses pembentukan diri, bukan hanya mengejar nilai."

Dan untuk para calon mahasiswa yang sedang mempertimbangkan pilihan:

"Persiapkan diri dengan niat yang kuat dan tujuan yang jelas."

Dua kalimat itu lahir bukan dari buku teks — melainkan dari pengalaman nyata seorang alumni UNAMIN dari Sorong yang kini berdiri di panggung nasional. Membuktikan bahwa UNAMIN bukan hanya kampus tempat belajar — tapi tempat bertumbuh.(AF)

Share this Post