Dari Ladang Aimas, Tim Unamin Sabet Juara 3 Program Mahasiswa Berdampak 2025

Sorong,26 Juni 2026 — Di ladang-ladang Kelurahan Aimas, tempat warga dulu bertani dengan cara tebang, bakar, lalu tanam, kini tumbuh kebiasaan baru: meracik pupuk organik, membudidayakan pohon gaharu, hingga mengolah pisang dan singkong menjadi produk siap jual. Di balik perubahan itu, ada tangan-tangan mahasiswa dan dosen Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin) yang menolak ilmu berhenti di tembok kelas.

Kerja itu kini berbuah manis. Tim Unamin meraih Juara 3 dalam Program Mahasiswa Berdampak (PMB) 2025, ajang yang mendorong mahasiswa menampilkan kontribusi nyata bagi masyarakat. Tim mengangkat tema “Integrasi Pertanian Ramah Lingkungan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Lokal di Kelurahan Aimas”, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Tim ini dipimpin oleh Ibu Irnawati selaku Ketua Tim Pengusul sekaligus Dosen Pembimbing, bersama Arya Nugraha Ramadhan sebagai Ketua Tim Mahasiswa. Mereka menggandeng kelompok tani dan kelompok PKK setempat sebagai mitra utama di lapangan.

Bagi Ibu Irnawati, penghargaan ini bukan sekadar trofi.

“Bagi kami capaian ini bukan hanya penghargaan, tetapi bukti bahwa kerja kolaboratif antara kampus, mahasiswa, dan masyarakat dapat menghasilkan perubahan yang nyata.”

Sejak awal, program ini dirancang untuk menempatkan mahasiswa bukan sebagai penonton, melainkan bagian dari penyelesaian masalah. “Tujuan utama program ini adalah menghadirkan mahasiswa sebagai bagian dari solusi masyarakat,” kata Irnawati. Bagi mahasiswa, lapangan menjadi ruang belajar langsung: memahami persoalan warga, berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan menerapkan ilmu secara nyata.

Pendampingan dilakukan bertahap. Mula-mula mahasiswa diajak membaca kondisi mitra — mengenali persoalan yang dihadapi kelompok tani dan PKK. Selanjutnya mereka dilibatkan menyusun rencana, membagi tugas, hingga menyiapkan alat dan bahan. Puncaknya, mahasiswa turun langsung ke lapangan.

Di Aimas, warga semula bergantung pada pupuk anorganik dan mengolah lahan secara tradisional dengan pola tebang-bakar-tanam. Mahasiswa lalu mendampingi pelatihan pembuatan pupuk organik, budidaya pohon gaharu dengan sistem agroforestry, penggunaan alat pertanian, pengolahan pisang dan singkong, hingga pemasaran digital.

Hasilnya mulai terasa.

“Dampak yang paling terasa adalah meningkatnya kepercayaan diri masyarakat dan mahasiswa.”

Warga mulai memahami pentingnya menjaga kesuburan tanah secara ramah lingkungan, mengenal sistem agroforestry, dan melihat hasil pertanian sebagai potensi ekonomi. Kelompok PKK pun kini mampu menyulap pisang dan singkong menjadi produk bernilai tambah — bukan lagi sekadar bahan konsumsi, tetapi peluang usaha.

Bagi mahasiswa, perubahannya tak kalah besar. Mereka tumbuh lebih percaya diri, lebih komunikatif, dan lebih memahami makna pengabdian. “Program ini melatih mahasiswa agar kuat secara akademik, matang secara karakter, dan peduli terhadap masyarakat,” ujarnya.

Irnawati menegaskan, kerja tim tak boleh berhenti saat penghargaan diterima. Ia menyiapkan tiga langkah agar program terus hidup: penguatan kelompok mitra dengan pembagian tugas yang jelas; pendampingan lanjutan berupa monitoring dan pelatihan tambahan bersama kampus serta pemerintah kelurahan; dan penguatan ekonomi produk olahan.

Untuk langkah ketiga, produk olahan pisang dan singkong yang kini sudah berkemasan baik perlu didorong memiliki izin usaha dan menjangkau pasar lebih luas. Selama ini, hasil olahan warga baru beredar di pasar Mama-Mama Papua. “Mungkin perlu dikembangkan untuk dipasarkan di toko-toko yang lebih baik dan lebih jelas,” kata Irnawati.

Kepada mahasiswa yang ingin mengikuti program serupa di tahun-tahun mendatang, Irnawati berpesan agar datang dengan niat belajar dan mengabdi.

“Jangan hanya datang untuk menyelesaikan program, datanglah untuk memberi manfaat. Program yang baik bukan hanya menghasilkan laporan, tetapi menghasilkan perubahan.”

Ia menaruh harapan besar pada generasi muda agar berani mengambil peran. “Kontribusi tidak harus selalu besar. Yang penting nyata, konsisten, dan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Bila mahasiswa terus bergerak bersama masyarakat, ia yakin kampus akan menjadi pusat ilmu yang benar-benar hidup dan bermanfaat — sejalan dengan semangat Unamin: Unggul, Humanis, Mencerahkan.(RL)

Share this Post