Dosen UNAMIN Terbitkan Riset Biopreservatif Udang Putih di Jurnal Internasional
Sorong,22 Juni 2026 — Dari sesuatu yang sehari-hari terlihat sederhana — terasi udang rebon — lahir sebuah riset yang kini menembus panggung ilmiah internasional. Dosen Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN), Prof. Dr. Sukmawati, S.Si., M.Si., berhasil menerbitkan hasil penelitiannya yang berjudul “Application of Crude Bacteriocins Based on LC Values to Prolong the Shelf Life of White Shrimp” di sebuah jurnal ilmiah internasional. Karya itu menjadi bukti bahwa riset bermutu bisa tumbuh dari sumber daya lokal di Papua Barat Daya.
Penelitian Sukmawati mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir: bagaimana menjaga kesegaran udang putih (Litopenaeus vannamei) lebih lama tanpa bahan pengawet kimia. Jawabannya ia temukan pada bakteriosin — senyawa antimikroba alami yang dihasilkan bakteri asal terasi udang rebon, produk fermentasi tradisional Indonesia.
Sukmawati menjelaskan, penelitian ini berangkat dari persoalan nyata di lapangan: produk perikanan, khususnya udang, sangat mudah rusak setelah panen, sementara masyarakat kini menuntut pengawet yang aman dan alami.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya tingkat kerusakan pascapanen pada produk perikanan, khususnya udang putih yang sangat mudah rusak. Di sisi lain, masyarakat semakin menuntut penggunaan bahan pengawet yang aman dan alami. Oleh karena itu, saya tertarik mengeksplorasi potensi bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri asal terasi udang rebon sebagai biopreservatif alami untuk memperpanjang umur simpan udang tanpa menimbulkan risiko kesehatan maupun dampak negatif terhadap lingkungan.
Pemilihan udang putih sebagai objek riset bukan tanpa alasan. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu andalan ekspor perikanan nasional — termasuk dari Papua Barat Daya.
Udang putih merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan Indonesia, khususnya Papua Barat Daya, yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta berkontribusi besar terhadap ekspor hasil perikanan nasional. Namun, udang juga sangat rentan mengalami penurunan mutu akibat aktivitas mikroorganisme dan proses biokimia setelah panen.
Dalam penelitian ini, bakteriosin yang digunakan masih berbentuk kasar atau crude bacteriocins — belum dimurnikan sepenuhnya. Senyawa itu diperoleh dari kultur bakteri penghasil bakteriosin melalui proses fermentasi, lalu dipisahkan dari sel bakteri menggunakan sentrifugasi hingga didapat cairan (supernatan) yang kaya senyawa antimikroba. Cairan inilah yang kemudian diuji dan diaplikasikan langsung pada udang putih.
Sebelum diterapkan pada bahan pangan, keamanan menjadi prioritas. Sukmawati menguji tingkat toksisitas bakteriosin menggunakan nilai LC?? dengan organisme uji Artemia sp., untuk memastikan konsentrasi yang dipakai aman namun tetap efektif.
Nilai LC?? digunakan untuk mengevaluasi tingkat keamanan crude bakteriosin sebelum diaplikasikan pada bahan pangan. Dengan mengetahui nilai tersebut, konsentrasi aplikasi dapat ditentukan secara lebih aman sehingga tetap efektif menghambat pertumbuhan bakteri tanpa menimbulkan efek toksik yang tidak diinginkan.
Hasilnya menjanjikan. Bakteriosin dari terasi udang rebon terbukti mampu menghambat bakteri patogen tertentu, dengan tingkat toksisitas yang relatif rendah.
Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa crude bacteriocins yang dihasilkan oleh isolat bakteri asal terasi udang rebon memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen tertentu serta menunjukkan tingkat toksisitas yang relatif rendah. Selain itu, aplikasi bakteriosin pada udang putih mampu membantu mempertahankan kualitas produk selama penyimpanan dibandingkan perlakuan kontrol.
Manfaatnya terasa nyata selama masa simpan. Aplikasi bakteriosin menekan pertumbuhan mikroorganisme pembusuk, sehingga mutu mikrobiologi udang lebih terjaga. Dari sisi fisik, udang pun mampu mempertahankan warna, tekstur, dan kesegarannya lebih baik dibandingkan tanpa perlakuan.
Lebih dari sekadar temuan laboratorium, riset ini menawarkan alternatif teknologi pengawetan yang lebih aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan — sekaligus mengangkat kekayaan mikroba lokal dari produk fermentasi khas Indonesia.
Penelitian ini memberikan alternatif teknologi pengawetan yang lebih aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan dibandingkan penggunaan bahan pengawet sintetis. Penelitian ini juga memanfaatkan sumber daya mikroba lokal yang berasal dari produk fermentasi tradisional Indonesia.
Publikasi di jurnal ilmiah internasional [sebutkan nama jurnal, indeksasi (mis. terindeks Scopus), serta bulan/tahun terbit] ini menegaskan bahwa kualitas riset UNAMIN mampu bersaing di kancah global. Dari laboratorium di Sorong, sebuah gagasan sederhana tentang terasi dan udang kini menjadi sumbangan nyata bagi pengembangan teknologi pangan — bukti bahwa ilmu yang mencerahkan bisa lahir dari mana saja, termasuk dari tanah Papua Barat Daya.(RL)