Dua Mahasiswi PBI Unamin Mengikuti International Internship and Community Service 2026 di Thailand

Sorong,03 Mei 2026 — Dua mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Sorong resmi bertolak ke Loei, Thailand, untuk mengikuti program International Internship and Community Service 2026. Mereka adalah Salsabila Putri Ramadhani Saeni dan Kadek Krisna Widiani,dua nama yang kini membawa nama Unamin dan Papua Barat Daya melintasi batas negara.
Keberangkatan ini bukan kejutan. Bagi Prodi PBI Unamin, melangkah ke panggung internasional sudah menjadi bagian dari DNA program studi. Banyak kakak tingkat yang lebih dulu mengukir pengalaman serupa, dibimbing oleh para dosen PBI yang konsisten mendorong mahasiswanya melampaui batas ruang kelas bahkan batas negara.

“Pastinya sangat senang dan bersyukur bisa terpilih, tidak hanya sebagai perwakilan untuk Prodi PBI, tapi juga kampus Unamin dan Papua Barat Daya.”
ungkap Salsabila Putri Ramadhani Saeni & Kadek Krisna Widiani.
Motivasi keduanya berangkat pun sejalan,meluaskan jangkauan pengalaman dan melanjutkan tradisi internasional yang sudah dibangun para pendahulu mereka di PBI. Bagi Salsabila dan Kadek, berkegiatan di luar negeri bukan hal asing ini adalah kelanjutan dari budaya yang sudah tumbuh subur di prodi mereka.

“Selain ingin menambah ilmu dan pengalaman, berkegiatan di luar negeri sudah jadi hal yang biasa untuk Prodi PBI Unamin. Banyak kakak tingkat kami yang juga sudah berkegiatan di luar Indonesia, dengan panduan dari dosen-dosen PBI kami yang keren. Karena itu kami ingin melanjutkan ‘kebiasaan’ itu.”
ungkap lagi Salsabila & Kadek.

Sebelum berangkat, keduanya menyiapkan diri secara menyeluruh bukan hanya urusan berkas seperti paspor dan visa, tapi juga kesiapan mental dan kesehatan fisik. Persiapan yang matang, kata mereka, adalah kunci agar bisa tampil maksimal di lingkungan baru yang sama sekali asing.
Thailand, khususnya Kota Loei di wilayah utara, menjadi panggung baru bagi keduanya untuk berinteraksi langsung dengan culture, food, dan people yang jauh berbeda dari keseharian di Sorong. Pengalaman lintas budaya semacam ini yang menurut mereka tidak akan bisa digantikan oleh teori di dalam kelas.


Untuk teman-teman yang ragu karena merasa belum cukup siap, pesan keduanya tegas: jangan biarkan rasa takut menghentikan langkah. Gagal atau tidak lolos bukan akhir dunia. Dan kalau suatu hari nanti berhasil diterima it will be worth it.

Keberangkatan Salsabila dan Kadek menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa dari ujung timur Indonesia pun mampu bersaing dan berkarya di level internasional. Unamin terus melangkah Unggul, Humanis, Mencerahkan.(RL)

Share this Post