Dua Tim Mahasiswa PWK UNAMIN Raih Pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026

Sorong, 24 Mei 2026 — Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua tim mahasiswa dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Fakultas Teknik, berhasil lolos seleksi dan mendapatkan pendanaan resmi pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Skema Pendanaan Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Tim pertama, diketuai Ngaina Khurun Maksyurotun, mahasiswi Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) angkatan 2024, lolos melalui skema PKM-RSH (Riset Sosial Humaniora) dengan judul Masterplan Mini Penataan Kawasan Pertanian Peri-Urban Berbasis Ketahanan Pangan dan Tata Ruang Berkelanjutan di Distrik Aimas Kabupaten Sorong. Ia didampingi Laode Muhammad Zulkarnain dan Sartini (Mahasiswa PWK 2023), serta Iin Indriani (Mahasiswi PWK 2025).

"Kami mengambil judul tersebut karena melihat adanya permasalahan yang cukup relevan di lingkungan masyarakat, sehingga kami ingin melakukan penelitian yang dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan terkait permasalahan tersebut," ungkap Ngaina.

Kawasan peri-urban Distrik Aimas kini menghadapi tekanan pertumbuhan kota yang mengancam kesinambungan lahan pertanian. Penelitian tim Ngaina hadir sebagai jawaban akademis sekaligus solusi penataan ruang yang menyentuh langsung isu ketahanan pangan warga Kabupaten Sorong.

"Harapan saya setelah lolos pendanaan, semoga kegiatan PKM ini dapat berjalan dengan lancar, tim kami bisa bekerja sama dengan baik, dan hasil penelitian ini nantinya dapat bermanfaat," tambah Ngaina penuh optimisme.

Tim kedua, diketuai Priskaila Chaterine Deardra Kayadu, mahasiswi PWK angkatan 2024, membawa judul PKM-RSH lainnya: Pemetaan Pola Fragmentasi Permukiman Suku Moi di Kota Sorong Akibat Tekanan Migrasi Penduduk. Bersama Feliks Baru dan Risman (Mahasiswa PWK 2023), serta Afdhal Amana Munawir (Mahasiswa PWK 2025), penelitian ini secara khusus merespons isu desakan ruang terhadap komunitas adat Suku Moi — suku asli Sorong, Papua Barat Daya — di tengah pesatnya pertumbuhan kota.

"Suku Moi adalah suku asli di wilayah Sorong, Papua Barat Daya. Wilayah ini mengalami perkembangan kota yang sangat pesat, yang memicu migrasi penduduk secara besar-besaran. Judul ini dipilih karena ingin melihat dampak nyata dari arus migrasi tersebut yang mulai mendesak atau memberi tekanan terhadap ruang hidup suku asli," jelas Priskaila.

Priskaila berharap penelitiannya mampu melahirkan lebih dari sekadar data. Ia ingin riset ini menjadi "suara" bagi Suku Moi, bahan evaluasi kebijakan tata ruang pemerintah, sekaligus jalan menuju solusi resolusi konflik spasial yang menjamin keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan ruang adat.

"Saya berharap judul ini mampu melahirkan sebuah solusi keseimbangan — harmonisasi. Di satu sisi pembangunan dan migrasi adalah keniscayaan, namun di sisi lain, ruang hidup, budaya, dan eksistensi spasial Suku Moi sebagai pemilik wilayah harus tetap lestari dan tidak terpinggirkan," tegasnya.

Keberhasilan ini mencerminkan komitmen UNAMIN dalam mendorong mahasiswanya menghasilkan riset yang relevan, berakar pada realitas lokal Papua Barat Daya, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik UNAMIN terus menjadi motor penggerak dalam melahirkan penelitian terapan yang berdampak.(AF)

Share this Post