Muhammad Nur Rifai Mursalin Raih Peserta Terbaik 1 MTQ Jalan Remaja Tingkat Provinsi

Sorong,11 Juli 2026 — Dari panggung Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Provinsi Papua Barat Daya, Muhammad Nur Rifai Mursalin, mahasiswa Prodi Hukum UNAMIN, membawa pulang prestasi yang membanggakan. Di kategori Jalan Remaja (Tilawah), dia meraih penghargaan Peserta Terbaik 1 — sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa komitmen terhadap Al-Qur'an dimulai sejak kecil dan terus berkembang hingga dewasa.

Perjalanan Muhammad Nur Rifai dengan Al-Qur'an dimulai sejak usia dini. Bahkan sebelum memasuki sekolah dasar, dia sudah belajar tilawah di lingkungan keluarga. "Sejak saya kecil, di umur berapa saya kurang tahu, yang pastinya saya sudah belajar di kelas satu SD," kata Muhammad saat diwawancarai. "Kalau belajar Al-Qur'an, saya mulai sebelum masuk sekolah. TK pun saya sudah belajar." Fondasi yang kuat ini menjadi batu loncatan untuk pencapaian-pencapaian gemilang di kemudian hari.

Persiapan untuk mengikuti MTQ tingkat provinsi tidaklah mudah. Muhammad Nur Rifai harus menjaga kesehatan suara, kesehatan badan, kondisi mental, dan fisik secara keseluruhan. Namun, semua aspek itu berpuncak pada satu hal: latihan tilawah yang konsisten dan intensif. Setiap detail suara, intonasi, dan penyampaian diperhalus melalui latihan berulang-ulang.

Namun, ketika hari-H tiba, Muhammad menghadapi tantangan internal yang cukup berat. Saat penyisihan, dia merasa grogi — suatu perasaan yang jarang dia alami sebelumnya karena sudah terbiasa tampil. "Tantangan terbesar adalah diri saya sendiri," ungkapnya. "Pada saat saya mau tampil penyisihan, saya merasakan grogi yang mungkin jarang saya dapatkan sebelumnya. Ada rasa ingin menyerah, tapi saya lawan."

"Cara mengatasinya, saya tenangkan diri saya. Saya amalkan surah-surah pendek yang disuruh sama guru saya. Tenangkan diri dan berdoa itu yang utama," ungkap Muhammad dengan tenang.

Di balik setiap pencapaian, selalu ada orang-orang yang berperan penting. Bagi Muhammad Nur Rifai, dua tokoh utama adalah ayahnya dan Ustadz Irsyadul Anam. "Yang paling pertama adalah kedua orang tua saya, apalagi Bapak saya. Beliau yang mengajari saya huruf demi huruf dari saya kecil hingga saat ini," ucapnya. Ayahnya adalah guru pertama yang menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur'an.

Selain ayah, peran Ustadz Irsyadul Anam sangat signifikan. Guru di pondoknya ini tidak hanya membimbing Muhammad Nur Rifai untuk meraih juara 1 Semesta Bertilawah di MNCTV pada tahun 2021, tetapi terus mendampinginya hingga kini — meski dengan perbedaan zona waktu dua jam. "Beliau sangat berperan penting. Sampai saat ini, ketika saya sudah keluar dari pondok pun beliau masih sangat berperan penting," tutur Muhammad dengan penuh terima kasih. "Ketika saya mau ada ajang perlombaan, beliau masih melatih saya terus-menerus, meskipun ada perbedaan jam yang signifikan."

Ketika ditanya tentang kunci utama menjadi seorang kori (pembaca Al-Qur'an) yang baik, Muhammad Nur Rifai memberikan jawaban yang sederhana namun mendalam. "Kunci utama untuk menjadi seorang kori yang baik itu adalah rendah hati, terus latihan, dan tidak sombong. Itu sih yang utama menurut saya," katanya. Filosofi sederhana ini mencerminkan karakter matang seorang pemuda yang sudah meraih banyak prestasi.

Prestasi Muhammad Nur Rifai tidak membuat dia lupa diri, melainkan semakin peduli terhadap perkembangan tilawah di Papua Barat Daya. Dia berharap pemerintah setempat lebih memperhatikan pembinaan tilawah dan MTQ. "Harapan saya untuk perkembangan MTK dan pembinaan tilawah Papua Barat Daya, mungkin harus lebih diperhatikan oleh pemerintah setempat," ujarnya. "Karena yang saya lihat, mungkin kurang dilirik oleh pemerintah."

"Kita di Papua masih bisa dikatakan minoritas. Yang saya harapkan sih lebih diperhatikan aja bibit-bibit unggul yang ada di Papua Barat Daya ini, biar bisa lebih berkembang lagi. Caranya mungkin yang saya harapkan juga disediakan tempat latihan untuk anak-anak yang punya bibit. Tempat guru dan itu semua harus dibiayai, karena itu awal mula dari segalanya."

Prestasi Muhammad Nur Rifai Mursalin adalah bukti nyata dari komitmen UNAMIN dalam membina mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kaya akan nilai spiritual dan kepedulian sosial. Harapannya terhadap pengembangan pembinaan tilawah di Papua Barat Daya mencerminkan jiwa yang tak hanya berprestasi untuk diri sendiri, tetapi untuk memberdayakan generasi muda Papua. Selamat, Muhammad Nur Rifai — semoga kesuksesan ini menjadi inspirasi bagi banyak pemuda lainnya untuk mencintai Al-Qur'an dan mengembangkan potensi mereka.(RL)

Share this Post