Kebakaran Hanguskan Permukiman Klademak II Pantai Sorong

Sorong,26 Juni 2026 — Hanya dalam hitungan jam pada Rabu (24/6/2026) subuh, kawasan padat Kompleks Klademak II Pantai, Kota Sorong, berubah menjadi hamparan arang. Api yang mulai berkobar tepat ketika azan subuh berkumandang melahap puluhan hingga hampir seratus rumah warga mayoritas keluarga nelayan  dalam waktu yang sangat singkat. Tidak ada korban jiwa, namun ratusan orang seketika kehilangan tempat berteduh.

Berdasarkan pendataan warga setempat, sekitar 97 unit rumah ludes terbakar. Data Pemerintah Kota Sorong mencatat 85 kepala keluarga atau 420 jiwa terdampak, tersebar di dua kelurahan, yakni Malawei dan Klaligi. Api baru berhasil dipadamkan total sekitar pukul 08.00 WIT, setelah tim gabungan Pemadam Kebakaran Kota Sorong dan Provinsi Papua Barat Daya berjibaku di lapangan. Seorang warga dilaporkan mengalami luka ringan dan telah memperoleh penanganan medis.

Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Kepolisian menyebut dugaan awal mengarah pada korsleting listrik dari salah satu rumah, sementara sejumlah warga menduga api pertama kali muncul dari sebuah rumah kosong di sisi barat kompleks. Yang tak terbantahkan, tiupan angin kencang khas kawasan pesisir mempercepat rambatan api dari satu bangunan ke bangunan lain hingga sulit dikendalikan.

Merespons bencana ini, Wali Kota Sorong Septinus Lobat menetapkan masa tanggap darurat selama tujuh hari. Pemkot menyiapkan tenda pengungsian, makanan siap saji, air bersih, serta mendirikan posko darurat dan posko kesehatan bagi warga terdampak. Bantuan kemanusiaan juga mengalir dari berbagai pihak, termasuk Satuan Brimob Polda Papua Barat Daya yang mendirikan dapur lapangan di lokasi pengungsian.

Namun di balik upaya pemulihan, peristiwa ini menyimpan pelajaran yang lebih dalam. Bagi Murni, S.Pd., M.P.W.K., dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin), kebakaran Klademak II tidak boleh berhenti dibaca sekadar sebagai musibah insidental, melainkan menjadi cermin atas kondisi penataan kawasan permukiman di Kota Sorong.

“Dari sudut pandang tata kota, peristiwa kebakaran di Klademak II bukan hanya dilihat sebagai bencana insidental, tetapi juga menjadi refleksi terhadap kondisi kawasan permukiman. Kebakaran di kawasan padat umumnya menunjukkan adanya tantangan pada aspek penataan ruang, kepadatan bangunan, akses darurat, serta kesiapan infrastruktur mitigasi bencana di lingkungan permukiman,” ujar Murni.

Menurutnya, di luar faktor teknis seperti korsleting listrik atau kelalaian manusia, terdapat sejumlah faktor pendukung yang membuat api menjalar cepat di kawasan padat. Jarak antarbangunan yang terlalu rapat, akses jalan lingkungan yang sempit, minimnya ruang terbuka sebagai pemutus penyebaran api, hingga keterbatasan sarana proteksi kebakaran menjadi kombinasi yang memperbesar risiko.

“Kawasan permukiman padat memiliki tingkat kerentanan yang tinggi karena penyebaran api dapat berlangsung cepat. Oleh karena itu, diperlukan sistem mitigasi berupa jalur evakuasi yang jelas, akses kendaraan pemadam, titik kumpul, edukasi kebencanaan, serta penguatan regulasi penataan kawasan,” jelasnya.

Murni menekankan bahwa musibah ini seharusnya mendorong masyarakat memandang tata lingkungan bukan semata soal kenyamanan, tetapi juga soal keselamatan. Pembangunan dan pengembangan permukiman, kata dia, perlu memperhatikan aspek keamanan dan ketahanan kawasan agar risiko bencana dapat ditekan sejak dini.

Pada level rumah tangga, langkah sederhana pun dinilai berdampak besar. Setiap keluarga, menurut Murni, dapat memastikan instalasi listrik aman, menjaga jarak penyimpanan bahan mudah terbakar, tidak menutup akses keluar rumah, menyediakan alat pemadam sederhana, serta turut menjaga keteraturan lingkungan agar jalur evakuasi tetap terbuka.

Untuk jangka panjang, dosen PWK Unamin itu menyarankan penataan kawasan berbasis mitigasi bencana: peningkatan kualitas infrastruktur permukiman, pengendalian kepadatan bangunan, penyediaan ruang terbuka, perbaikan jaringan utilitas, hingga integrasi aspek keselamatan ke dalam perencanaan dan pengembangan kota. Bagi Kota Sorong yang terus tumbuh sebagai pintu gerbang ekonomi di ujung barat Papua, rekomendasi ini terasa relevan dan mendesak.

“Masyarakat perlu mulai melihat keselamatan lingkungan sebagai tanggung jawab bersama. Menjaga keteraturan permukiman, memastikan akses lingkungan tetap terbuka, serta aktif dalam kegiatan kesiapsiagaan bencana menjadi langkah penting untuk membangun kawasan yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan,” pesan Murni.

Di tengah duka warga Klademak II Pantai yang kini bertahan di tenda pengungsian, pesan itu menjadi pengingat: membangun kota yang tangguh bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh warganya. Dan dari ruang kelas Unamin, suara akademik turut hadir bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mencerahkan jalan ke depan.(RL)

Share this Post