Kenapa Hari Pertama Puasa Terasa Lebih Lama dari Biasanya?
Sorong, 18 Februari 2026 — Hari pertama puasa sering terasa paling panjang dibanding hari-hari berikutnya. Bagi mahasiswa yang harus mengikuti kuliah dari pagi sampai sore, waktu seolah berjalan lebih lambat. Baru pukul 10.00, tetapi rasanya seperti sudah mendekati siang. Tanpa sadar, tangan jadi lebih sering mengecek jam di ponsel atau melirik jam dinding di kelas.
Secara fisik, tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan pola makan dan minum. Setelah terbiasa sarapan atau ngemil di sela aktivitas kampus, kini tubuh harus menahan asupan selama belasan jam. Kadar gula darah yang mulai menurun membuat energi berkurang dan konsentrasi tidak seoptimal biasanya. Saat tubuh terasa lemas, kita menjadi lebih sadar terhadap waktu. Akibatnya, keinginan untuk melihat jam muncul lebih sering dan hari terasa makin lama.
Secara psikologis, pengaruhnya juga cukup besar. Karena sadar sedang berpuasa, pikiran cenderung fokus pada rasa lapar dan haus. Ketika perhatian tertuju pada satu hal, terutama menunggu waktu berbuka, detik demi detik terasa berjalan lambat. Apalagi jika jadwal kuliah dipenuhi mata kuliah yang cukup berat atau presentasi yang menguras energi.
Kurang tidur juga menjadi faktor pendukung. Bangun lebih awal untuk sahur membuat waktu istirahat berkurang. Saat tubuh masih mengantuk dan harus duduk lama di kelas, rasa jenuh lebih cepat datang. Kondisi ini membuat mahasiswa semakin sering melihat jam, berharap waktu berbuka segera tiba.
Meski demikian, kondisi ini biasanya hanya terjadi di awal Ramadan. Setelah dua atau tiga hari, tubuh mulai menyesuaikan diri dengan pola baru. Energi menjadi lebih stabil dan kebiasaan melihat jam perlahan berkurang. Hari pertama memang terasa paling menantang, tetapi setelah melewati masa adaptasi, puasa di kampus dapat dijalani dengan lebih fokus dan produktif.(AAM)