Komunikasi Bebas Tanpa Filter: Masih Wajar atau Perlu Batas?

Sorong, 15 April 2026 — Gaya komunikasi mahasiswa yang semakin santai dan tanpa batas kini jadi hal yang sering ditemui, terutama dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan. Banyak yang menganggap cara bicara yang “lepas” sebagai tanda keakraban, padahal tidak semua orang merasa nyaman dengan hal tersebut.

Dalam keseharian, sering muncul candaan yang sebenarnya sudah mengarah ke hal yang kurang pantas. Karena sudah terbiasa, hal itu jadi terasa biasa saja. Padahal, kalau dilihat lebih dalam, tidak semua candaan cocok untuk semua orang, apalagi jika menyangkut hal yang sensitif atau terlalu pribadi.

Masalahnya, batas antara bercanda dan tidak sopan itu tipis sekali. Kadang niatnya hanya ingin akrab atau mencairkan suasana, tapi tanpa disadari justru bisa membuat orang lain merasa risih. Tidak semua orang akan langsung menunjukkan ketidaknyamanan, sehingga kebiasaan ini terus berulang dan akhirnya dianggap normal.

Perlu diingat, akrab bukan berarti bebas tanpa batas. Justru dalam hubungan yang baik, ada rasa saling menghargai yang dijaga. Cara berbicara yang tetap sopan bukan berarti kaku, tapi menunjukkan bahwa kita paham situasi dan menghormati lawan bicara.

Lingkungan kampus seharusnya jadi tempat yang nyaman untuk semua. Kalau komunikasi mulai kehilangan batas, suasana yang harusnya positif bisa berubah jadi kurang sehat. Hal-hal kecil seperti pilihan kata ternyata punya dampak besar dalam membentuk lingkungan sosial.

Karena itu, penting untuk mulai lebih sadar dalam berbicara. Tidak perlu terlalu kaku, tapi tahu kapan harus menjaga diri. Bercanda boleh, santai juga tidak masalah, selama tetap tahu batasnya. Dengan begitu, komunikasi tetap asyik tanpa harus membuat orang lain merasa tidak nyaman.(AF)

Share this Post