Konvoi Piala Dunia Marak di Sorong, Dosen UNAMIN Ingatkan Keselamatan dan Sportivitas
Sorong,23 Juni 2026 — Ribuan warga Kota Sorong menumpahkan euforia Piala Dunia 2026 ke jalan raya. Sejak turnamen bergulir pada 11 Juni, konvoi suporter lintas negara menjadi pemandangan yang nyaris rutin di Papua Barat Daya — meriah dan penuh warna, tetapi juga memunculkan sorotan soal ketertiban dan keselamatan.
Piala Dunia 2026 berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli dengan tuan rumah bersama Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, serta diikuti 48 tim. Karena perbedaan zona waktu, sebagian besar laga disaksikan warga Indonesia pada malam hingga dini hari, yang kerap berlanjut dengan luapan kegembiraan di jalan.
Di Kota Sorong, konvoi akbar lintas-komunitas digelar pada awal Juni dan dilepas langsung Wali Kota Sorong Septinus Lobat dari kawasan Stadion Bawela, dengan rute menyusuri jalan protokol hingga wilayah Kabupaten Sorong. Suporter berbagai negara — dari Brasil, Argentina, Spanyol, Jerman, hingga Belanda yang tampil dominan dengan atribut oranye — memadati jalan dengan bendera dan kendaraan berhias.
Antusiasme itu disambut positif, namun tetap diiringi imbauan. Wali Kota Sorong meminta peserta tidak berkendara ugal-ugalan dan hanya mengenakan atribut negara peserta. Di sejumlah daerah Papua dan Papua Barat, kepolisian juga mengimbau warga mengutamakan keselamatan, menghindari minuman keras, dan berkoordinasi soal rute konvoi.
Menanggapi fenomena ini, dosen Pendidikan Jasmani (Penjas) Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN), LA Robi, S.Pd., M.Pd., menilai konvoi sebagai bentuk wajar dari kecintaan masyarakat terhadap sepak bola.
Menurut saya, konvoi sepak bola merupakan bentuk luapan kegembiraan masyarakat terhadap tim yang mereka dukung, sehingga ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap olahraga yang sangat tinggi. Selama dilakukan dengan tertib dan tidak mengganggu masyarakat lain, saya melihat fenomena ini sebagai hal yang positif.
Lebih dari sekadar perayaan kemenangan, Robi menilai konvoi punya makna sosial. Ia melihat momen itu mempertemukan warga dari berbagai latar belakang dalam satu suasana kegembiraan.
Konvoi bukan hanya soal merayakan kemenangan tim, tetapi juga menjadi momen yang mempererat kebersamaan. Kita bisa melihat masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul dan menunjukkan semangat secara bersama. Hal ini membuktikan bahwa sepak bola mampu menyatukan banyak orang, baik dari sisi ras, agama, maupun suku.
Meski begitu, Robi tidak menutup mata terhadap sisi yang kerap mengganggu. Ia menyoroti perilaku sebagian peserta yang justru merugikan orang lain.
Yang disayangkan, banyak konvoi dilakukan dengan kebut-kebutan, bahkan menambah sampah di jalan, sehingga merugikan orang lain. Yang paling penting adalah tetap mengutamakan keselamatan dan menghormati pengguna jalan lain. Euforia itu boleh, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.
Bagi generasi muda, Robi menekankan ada banyak nilai yang bisa dipetik dari euforia ini — mulai dari kebersamaan, solidaritas, hingga loyalitas. Termasuk satu pelajaran penting: menerima kemenangan dan kekalahan dengan dewasa.
Generasi muda juga belajar bahwa dalam olahraga ada menang dan kalah. Misalnya kemarin, tim seperti Spanyol yang dianggap kuat pun masih bisa bermain imbang. Hal itu harus disikapi dengan dewasa serta saling menghargai.
Sebagai pendidik, Robi memandang kampus punya peran dalam mengarahkan euforia mahasiswa agar tetap sehat dan bertanggung jawab.
Kampus memiliki tanggung jawab untuk membangun karakter mahasiswa, termasuk dalam menyikapi berbagai fenomena sosial. Kami selaku dosen selalu mendorong mahasiswa mengekspresikan dukungan secara kreatif, sportif, dan bertanggung jawab. Dukungan terhadap tim favorit harus menjadi sarana mempererat persaudaraan, bukan memicu konflik.
Di tengah perbedaan tim yang didukung, Robi berpesan agar persatuan tetap dijaga, khususnya di lingkungan civitas akademika UNAMIN.
Saya berharap masyarakat tetap menjaga persatuan dan kebersamaan, khususnya civitas Universitas Muhammadiyah Sorong. Jangan sampai perbedaan dukungan terhadap tim tertentu menimbulkan perpecahan. Jadikan sepak bola sebagai hiburan dan sarana memperkuat solidaritas. Mari kita tunjukkan bahwa masyarakat Kota Sorong bisa menikmati euforia sepak bola dengan cara yang dewasa dan aman.
Pesan itu sejalan dengan semangat yang ingin dijaga banyak pihak: euforia Piala Dunia di Papua Barat Daya bisa menjadi energi pemersatu — sepanjang dirayakan dengan tertib, aman, dan saling menghormati.(RL)