Kultum Tarawih: Hidupkan Malam-Malam Terakhir Ramadan untuk Meraih Laylatul Qadar
Sorong, 15 Maret 2026 — Kultum Tarawih di Masjid Darul Ulum Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) pada malam ke-25 Ramadan disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN), Dr. H. Muhammad Ali, MM., MH. Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah untuk memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan meningkatkan kualitas ibadah serta bersungguh-sungguh mencari kemuliaan Laylatul Qadar.
Dalam ceramahnya, Muhammad Ali mengingatkan bahwa ibadah yang dilakukan manusia selama hidup di dunia merupakan bekal untuk kehidupan di akhirat. Ia mengibaratkan ibadah seperti seseorang yang bekerja untuk mencari penghidupan, di mana hasilnya tidak selalu langsung dirasakan, tetapi akan memberikan manfaat besar di kemudian hari.
“Sebagian hasil ibadah kita mungkin dirasakan di dunia, tetapi yang lebih besar akan kita nikmati di kehidupan akhirat,” ujarnya di hadapan jamaah salat Isya dan Tarawih.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam meningkatkan kualitas ibadah, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Menurutnya, Rasulullah SAW memperbanyak ibadah pada waktu tersebut karena berharap mendapatkan keutamaan Laylatul Qadar, malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Mengutip Surah Al-Qadr, ia menjelaskan bahwa pada malam tersebut para malaikat, termasuk Malaikat Jibril, turun ke bumi untuk mendoakan manusia yang sedang beribadah kepada Allah SWT. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dengan berbagai amalan seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan memohon ampun kepada Allah.
Menurutnya, keutamaan Laylatul Qadar menjadi motivasi bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah, terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Namun ia menegaskan bahwa semangat beribadah sebaiknya dijaga setiap malam agar tidak kehilangan kesempatan memperoleh kemuliaan tersebut.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ajaran Islam sering menggunakan bahasa yang memiliki makna luas. Misalnya, ketika hadis menyebutkan bahwa pada bulan Ramadan pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, hal itu dapat dimaknai sebagai terbukanya berbagai jalan kebaikan seperti bersedekah, membantu sesama, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak ibadah.
Menjelang akhir ceramahnya, Muhammad Ali mengingatkan jamaah agar tidak menyia-nyiakan malam-malam terakhir Ramadan. Ia mengajak umat Islam untuk tetap menjaga ibadah meskipun disibukkan dengan persiapan menyambut Idulfitri.
Menutup kultumnya, ia berharap jamaah dapat memanfaatkan sisa Ramadan untuk memperbanyak amal ibadah serta memohon ampun kepada Allah SWT agar termasuk orang-orang yang mendapatkan keberkahan dan kemuliaan Laylatul Qadar.(AAM)