Kultum Tarawih: Rektor UNAMIN Ajak Jamaah Tarawih Perkuat Ketakwaan di Akhir Ramadan
Sorong, 16 Maret 2026 – Rektor Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN), Dr. H. Muhammad Ali, MM., MH., menyampaikan kultum Tarawih di Masjid Darul Ulum UNAMIN pada Senin malam (16/3) dengan mengajak jamaah untuk memperkuat ketakwaan dan memaksimalkan ibadah di penghujung bulan suci Ramadan. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya bersyukur atas nikmat Allah SWT serta memanfaatkan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri dan menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Mengawali ceramahnya, Dr. Muhammad Ali mengajak jamaah untuk senantiasa memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan. Menurutnya, nikmat tersebut sangat besar nilainya dan tidak dapat dihitung dengan ukuran materi apa pun. Oleh karena itu, manusia hendaknya menyadari bahwa dirinya memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah SWT apabila mampu mensyukuri dan memanfaatkan nikmat tersebut dengan baik.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam menjalani kehidupan. Dengan meneladani Rasulullah, umat Islam diharapkan mampu menjaga istiqamah hingga akhir Ramadan dan tetap berada pada jalan yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Dalam kultumnya, Dr. Muhammad Ali mengutip Surah Ali Imran ayat 133–134 yang menjelaskan tentang ajakan untuk bersegera memohon ampun kepada Allah dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang diperuntukkan bagi orang-orang bertakwa. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama ibadah puasa di bulan Ramadan adalah untuk mencapai derajat takwa.
Menurutnya, Al-Qur’an memberikan gambaran jelas tentang siapa saja yang termasuk golongan orang bertakwa. Pertama, yaitu mereka yang gemar menafkahkan sebagian hartanya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Ia menekankan bahwa bersedekah tidak harus menunggu dalam keadaan berlebih, tetapi dapat dilakukan sesuai kemampuan, bahkan dari sisa rezeki yang masih dimiliki setelah kebutuhan sehari-hari terpenuhi.
“Kita tidak pernah tahu kapan ajal datang. Karena itu, jangan menunda-nunda untuk berbuat baik dan berbagi kepada sesama. Apa yang kita keluarkan di jalan Allah sesungguhnya adalah tabungan kita untuk kehidupan akhirat,” ujarnya.
Ciri kedua orang bertakwa, lanjutnya, adalah mampu menahan amarah dan mengendalikan emosi. Menurutnya, setiap manusia memiliki potensi emosi, namun kemuliaan seseorang terletak pada kemampuannya mengendalikan emosi tersebut.
Selain itu, orang bertakwa juga digambarkan sebagai pribadi yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Ia menegaskan bahwa memaafkan sering kali lebih sulit dibandingkan meminta maaf, namun sikap memaafkan merupakan sifat yang sangat mulia dan dicintai oleh Allah SWT.
Dr. Muhammad Ali juga menjelaskan bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Namun, orang bertakwa adalah mereka yang segera mengingat Allah ketika melakukan kesalahan, lalu memohon ampun dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.
“Jika kita melakukan kesalahan, segera ingat Allah dan mohon ampun kepada-Nya. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa manusia selain Allah SWT,” jelasnya.
Di akhir kultum, ia mengajak jamaah untuk memaksimalkan ibadah di malam-malam terakhir Ramadan. Ia berharap Ramadan tahun ini dapat membawa perubahan yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia juga mengingatkan bahwa setelah melaksanakan salat Tarawih dan Witir, jamaah masih dapat melaksanakan salat tahajud di rumah apabila terbangun pada malam hari, namun tidak perlu mengulang salat witir karena witir hanya dilakukan sekali dalam satu malam.
Menutup ceramahnya, Dr. Muhammad Ali mengajak seluruh jamaah untuk saling mendoakan agar diberikan kesehatan dan kesempatan untuk kembali bertemu dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang.
“Mudah-mudahan Ramadan tahun ini membawa perubahan dalam diri kita dan Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadan berikutnya dalam keadaan sehat sehingga kita dapat menambah bekal untuk kehidupan akhirat,” pungkasnya.(AAM)