Lautan Bendera Saat Piala Dunia, Ini Tanggapan Kaprodi Sosiologi UNAMIN Sorong
Sorong, 12 Juni 2026 — Setiap Piala Dunia tiba, Kota Sorong punya caranya sendiri untuk merayakan. Jalanan berubah jadi lautan bendera, ribuan orang turun ke jalan memakai jersey negara kesayangan, dan orasi bergema hingga dini hari. Yang terbaru, Minggu sore 7 Juni 2026, ribuan warga memadati Jalan Ahmad Yani Tembok Berlin dalam Konvoi Pawai Akbar yang bahkan difasilitasi langsung oleh Pemerintah Kota Sorong — sebuah pemandangan yang sudah lama tak mengejutkan siapapun yang tinggal di kota ini.
Menanggapi fenomena yang terus berulang ini, Umar Ramli, S.Sos., M.Si., Ketua Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN Sorong), membacanya dari kacamata sosiologi.
"Ini merupakan bentuk perilaku kolektif. Dimulai dari satu, ajak satu, ajak satu lagi — dan sudah membudaya di Sorong. Ada minat dan emosi bersama terkait sepak bola. Ketika seseorang melihat orang lain memakai jersey yang sama di jalan, langsung timbul dorongan: ayo kita orasi, ayo kita pawai," ujar Umar.
Menurutnya, pawai bukan sekadar hiburan. Ia juga menjadi ruang sosial — tempat orang-orang yang baru kenal berkumpul, berdiskusi panjang soal tim favorit, hingga berkoordinasi nonton bareng sebelum pertandingan dimulai.
Mengacu pada Teori Identitas Sosial dari John Turner, Umar menjelaskan bahwa bendera dan jersey berfungsi sebagai simbol yang menarik individu untuk bergabung — termasuk mereka yang semula enggan.
"Ada yang awalnya tidak mau ikut. Tapi ketika melihat banyak orang membawa bendera yang sama, dia ikut juga. Lambang itu memberikan rasa bangga — bukan soal menang atau kalah, tapi soal bela negara yang dia dukung," jelasnya.
Soal Sorong yang kerap disebut lebih ramai dibanding daerah lain, Umar mengingatkan soal bias perspektif. Antusiasme serupa sebenarnya juga terjadi di daerah lain — di Nabire misalnya, pendukung salah satu negara kontestan berkumpul besar-besaran dan cenderung mendominasi. Yang membedakan hanyalah Sorong lebih banyak mendapat sorotan karena menjadi domisili banyak pengamat.
Pesan untuk Mahasiswa: Rayakan, Tapi Jangan Abaikan Kuliah
Umar juga menyoroti mahasiswa secara khusus. Piala Dunia 2026 digelar di Amerika Utara, sehingga sebagian besar pertandingan ditayangkan dini hari hingga pagi hari WIT — berpotensi bentrok langsung dengan jadwal kuliah.
"Mahasiswa punya dua identitas — sebagai masyarakat dan sebagai mahasiswa. Di luar kampus, bebas berekspresi sebagai fans. Tapi pada saat proses perkuliahan, dia harus melaksanakan kewajibannya. Saya khawatir, karena ini 4 tahun sekali, mahasiswa memilih menonton daripada kuliah," kata Umar.
Ia tidak melarang pawai atau perayaan, namun mendorong mahasiswa untuk mencari alternatif yang tidak merugikan pihak lain — misalnya menghindari orasi tengah malam saat warga sedang istirahat.
"Tidak ada larangan pawai sebagai bentuk kecintaan. Tapi mahasiswa harus mencerminkan dirinya — ada batasan dalam dirinya yang menunjukkan dia orang berpendidikan. Kalau waktunya mengganggu orang istirahat, cari alternatif lain," tutupnya.
Umar juga mengingatkan bahwa euforia seperti ini bukan monopoli Sorong. Di Nabire misalnya, pendukung salah satu negara kontestan berkumpul besar-besaran dan cenderung mendominasi. Di banyak daerah di Papua, semangat serupa juga mengalir — hanya saja tidak selalu tersorot. Sorong tampak paling ramai, kata Umar, semata karena kacamata kita memang lebih sering tertuju ke sini.
Yang tumbuh di sini bukan sekadar fanatisme sesaat — melainkan budaya kolektif yang sudah berakar jauh sebelum Piala Dunia 2026. Jika dirawat dengan bijak, semangat kebersamaan ini justru bisa menjadi kekuatan: mempererat hubungan antarwarga lintas latar belakang, menghidupkan ruang sosial yang inklusif, dan membuktikan bahwa perbedaan pilihan tidak harus jadi pemisah. Sepak bola, pada akhirnya, bukan hanya soal gol dan trofi — tapi soal bagaimana sebuah kota bisa berdiri bersama di bawah bendera yang berbeda-beda, dan tetap pulang ke rumah sebagai tetangga yang sama.(AF)