Prodi PWK Unamin dan Departemen PWK Undip Implementasikan Kerja Sama Akademik melalui Review Pakar Kurikulum OBE
Sorong,18 Juli 2026 — Langkah serius disiapkan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin) untuk memastikan lulusannya berdaya saing nasional. Pada Jumat 17 Juli 2026, tim Prodi PWK Unamin berangkat ke Semarang untuk melaksanakan implementasi kerja sama akademik dengan Departemen PWK Universitas Diponegoro (Undip) melalui agenda review pakar terhadap draft kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).
Review dilakukan langsung oleh Prof. Dr. sc. Agr. Iwan Rudiarto, S.T., M.Sc., Kepala Departemen PWK Undip yang juga menjabat Dewan Pengawas Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia (ASPI) — asosiasi yang mewadahi program studi dan sekolah perencanaan wilayah dan kota se-Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, Unamin diwakili oleh La Ibal, S.T., M.P.W.K., Sekretaris Program Studi PWK, didampingi dua dosen PWK Unamin, yaitu Rahful Ahmad Madaul, S.T., M.P.W.K. dan Ummi Hanifah Marshush, S.T., M.P.W.K.
Momentum Empat Tahunan Prodi Muda
Sebagai program studi yang relatif baru dan berdiri pada tahun 2022, kurikulum awal PWK Unamin disusun sebagai landasan operasional penyelenggaraan pembelajaran bagi angkatan pertama dan belum sepenuhnya mengadopsi seluruh instrumen ideal kurikulum berbasis OBE. Mengacu pada siklus evaluasi kurikulum yang dilakukan berkala setiap empat tahun, 2026 menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi dan penyempurnaan menyeluruh — bukan sekadar menata ulang struktur dan distribusi mata kuliah, tetapi memperkuat seluruh komponen kurikulum agar selaras dengan prinsip OBE.
Melalui pendekatan OBE, pendidikan tidak lagi berorientasi semata pada materi yang diajarkan dosen, melainkan pada capaian pembelajaran yang harus dikuasai mahasiswa. Karena itu, kurikulum dituntut memiliki keterkaitan yang jelas dan terukur antara visi misi program studi, profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan (CPL), bahan kajian, mata kuliah, strategi pembelajaran, metode asesmen, hingga mekanisme evaluasi dan peningkatan mutu berkelanjutan.
Planner, Researcher, Academic: Tiga Wajah Lulusan PWK
Fokus utama review adalah penguatan profil lulusan dan CPL. Lulusan PWK Unamin dirancang memiliki kompetensi utuh dalam tiga peran sekaligus: perencana (planner), peneliti (researcher), dan akademisi (academic). Ketiganya dipandang penting karena ruang lingkup kerja lulusan PWK sangat luas — dari instansi pemerintah, konsultan perencanaan, lembaga non-pemerintah, hingga dunia akademik.
Dalam diskusi akademik yang difasilitasi Prof. Iwan, ditekankan bahwa CPL tidak harus seluruhnya muncul di setiap mata kuliah, melainkan didistribusikan secara proporsional melalui Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dan sub-CPMK, sehingga ketercapaian kompetensi dapat diukur secara sistematis dan berkelanjutan dalam satu siklus pembelajaran. Struktur kurikulum berbasis kompetensi juga disorot, mencakup penguasaan teori perencanaan (planning theory), pemahaman prinsip dan proses perencanaan, kemampuan metode dan teknik analisis, keterampilan pengambilan keputusan, serta pemahaman norma, nilai, dan etika profesi.
Studio dan Capstone Jadi Andalan
Pendekatan pembelajaran berbasis studio menjadi salah satu poin penting review. Studio perencanaan dipandang sebagai media utama mengasah keterampilan praktis: mahasiswa dilatih mengintegrasikan pengetahuan melalui proses perencanaan yang utuh, mulai dari identifikasi masalah, analisis data, penyusunan skenario, hingga komunikasi hasil dalam bentuk presentasi maupun laporan — sebab seorang perencana tidak hanya dituntut mampu merancang, tetapi juga menyampaikan gagasan secara efektif kepada berbagai pemangku kepentingan.
Struktur studio pun diperkuat, mencakup studio perencanaan, studio proses perencanaan, studio perancangan, hingga pengembangan capstone atau studio tugas akhir berbasis OBE. Capstone menjadi tahap integratif di semester akhir, tempat seluruh kompetensi diaplikasikan dalam satu proyek perencanaan komprehensif; mahasiswa diberi fleksibilitas memilih fokus kajian, baik perencanaan kota, wilayah, maupun kawasan tertentu, sesuai minat dan keahliannya. Kurikulum juga diarahkan selaras dengan standar kompetensi asosiasi profesi seperti Ikatan Ahli Perencana (IAP), terutama menyangkut kompetensi minimal lulusan, etika profesi, dan kesiapan menghadapi dunia kerja.
Legitimasi Akademik dan Target Semester Ganjil 2026/2027
Kedudukan Prof. Iwan di ASPI memberi nilai strategis: masukannya tidak hanya berbasis perspektif akademik, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan pendidikan PWK secara nasional, standar kompetensi lulusan, dan kebutuhan penguatan mutu prodi PWK di Indonesia. Sebagai anggota aktif ASPI, Prodi PWK Unamin memperoleh penguatan legitimasi akademik dan profesional atas draft kurikulumnya — memastikan kurikulum yang dikembangkan selaras dengan rambu-rambu dan standar pendidikan yang menjadi perhatian asosiasi.
Seluruh telaah, masukan, dan rekomendasi pakar — yang mencakup profil lulusan, CPL, bahan kajian, struktur dan distribusi mata kuliah, metode pembelajaran, sistem penilaian, hingga keterkaitan antarkomponen kurikulum — akan digunakan sebagai dasar penyempurnaan dan finalisasi draft. Setelah melalui tahapan penetapan sesuai mekanisme akademik universitas, kurikulum baru ini ditargetkan disahkan dan mulai diterapkan pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027.
Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud kontribusi Unamin terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penyempurnaan kurikulum berbasis OBE merupakan implementasi langsung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penjaminan mutu pembelajaran dan kompetensi lulusan yang terukur. Substansi keilmuan PWK — dari teori perencanaan hingga studio dan capstone yang menjawab persoalan nyata kota dan wilayah — berkaitan erat dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), karena lulusan disiapkan menjadi perencana yang mampu mewujudkan kota dan kawasan yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan, khususnya di Papua Barat Daya dan Indonesia Timur. Sementara itu, kolaborasi kelembagaan antara Prodi PWK Unamin, Departemen PWK Undip, ASPI, dan asosiasi profesi IAP mencerminkan semangat SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam membangun kemitraan lintas institusi demi peningkatan mutu pendidikan tinggi.
Lebih dari sekadar review, kegiatan ini membuka peluang jejaring dan kolaborasi kelembagaan antara Prodi PWK Unamin dan Departemen PWK Undip — mulai dari pengembangan kurikulum, pembelajaran, penelitian, peningkatan kapasitas dosen, hingga kegiatan akademik mahasiswa — sekaligus menjadi bagian penting dalam upaya menuju akreditasi unggul. Melalui penyempurnaan kurikulum berbasis OBE ini, Prodi PWK Unamin menegaskan komitmennya menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan profesional, serta mampu berkontribusi nyata menjawab persoalan perencanaan dan pembangunan wilayah maupun perkotaan, khususnya di Papua Barat Daya dan kawasan Indonesia Timur.(RL)