Rakornas Forum Pimpinan AIK PTMA Tegaskan Revitalisasi Peran Dosen AIK

Sorong, 10 Februari 2026 — Wakil Rektor II Bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Umum, Keuangan, dan Aset UNAMIN, Dr. Kamaluddin, M.M., bersama Dosen AIK UNAMIN Jenro P. Sijabat, M.Pd, menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forum Pimpinan Bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang dilaksanakan di Hotel Wyndham Opi Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu, 8 Februari 2026.

Kegiatan Rakornas ini turut dihadiri Ketua LLDIKTI Wilayah II Palembang serta para pimpinan dan dosen bidang AIK dari berbagai PTMA di Indonesia. Rakornas mengusung tema “Revitalisasi Peran Dosen AIK sebagai Katalisator Penguatan Profil Pelajar Peserta Didik Berkemajuan di PTMA” dan menjadi forum strategis untuk merumuskan arah penguatan peran dosen AIK dalam sistem pendidikan tinggi Muhammadiyah.

Dalam wawancara usai kegiatan, Dr. Kamaluddin, M.M. menyampaikan bahwa revitalisasi peran dosen AIK merupakan kebutuhan mendesak. Ia menilai masih terdapat dosen AIK yang secara formal mengampu mata kuliah AIK, namun belum sepenuhnya memiliki pemahaman dan penghayatan ideologi Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Selain itu, dosen AIK yang telah menjadi kader Muhammadiyah belum seluruhnya didukung oleh dokumen akademik yang sahih sebagai bukti kompetensi khusus AIK. Di sisi lain, jumlah dosen AIK yang memiliki kualifikasi S2 dan S3 keagamaan dengan konsentrasi AIK juga masih terbatas.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penguatan peran dosen AIK dalam membentuk karakter, nilai keislaman, dan kemuhammadiyahan mahasiswa perlu ditopang oleh langkah-langkah konkret. Upaya tersebut antara lain melalui sertifikasi kompetensi dosen AIK, pencantuman ranting keilmuan AIK dalam jabatan fungsional dosen, mulai dari Asisten Ahli hingga Guru Besar, serta dorongan peningkatan kualifikasi akademik melalui program doktor (S3) keagamaan dengan konsentrasi AIK.

Menjawab tantangan perkembangan zaman, Dr. Kamaluddin menekankan pentingnya inovasi dalam pembelajaran AIK agar lebih kontekstual dan relevan. Salah satu pendekatan yang dinilai tepat adalah heutagogi, yaitu metode pembelajaran mandiri yang berpusat pada mahasiswa (learner-centered). Melalui pendekatan ini, mahasiswa diberikan otonomi untuk mengatur dan mengelola proses belajarnya, sementara dosen berperan sebagai fasilitator dan pembimbing. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mencetak pembelajar sepanjang hayat yang adaptif terhadap dinamika era digital.

Terkait tantangan yang dihadapi dosen AIK, ia menegaskan bahwa peningkatan kapasitas intelektual dan keilmuan menjadi keharusan. Selain itu, dosen AIK juga dituntut untuk memiliki literasi teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), metaverse, dan berbagai platform digital, guna mendukung proses pembelajaran AIK yang inovatif dan efektif.

Melalui Rakornas Forum Pimpinan Bidang AIK PTMA ini, diharapkan dapat dirumuskan rekomendasi strategis yang menjadi acuan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam memperkuat peran dosen AIK sebagai katalisator penguatan profil pelajar berkemajuan, yang berlandaskan nilai-nilai Islam, ideologi Muhammadiyah, serta memiliki daya saing di tingkat nasional dan global.(AAM)

Share this Post