Ramai Stand Takjil Saat Ramadan, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Bahas Dampak pada Ruang Publik

Sorong, 26 Februari 2026 — Fenomena menjamurnya stand takjil di kawasan Kilometer 10, tepatnya di depan SMA Negeri 2 Kota Sorong, kembali mewarnai suasana sore hari selama bulan Ramadhan. Aktivitas ini menghadirkan keramaian temporer yang mengubah wajah ruang kota sekaligus memunculkan dinamika baru dalam pemanfaatan ruang publik.

Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Muhammadiyah Sorong, La Ibal, S.T., M.P.W.K, menilai keberadaan stand takjil di tepi jalan merupakan bentuk pemanfaatan ruang publik secara informal yang bersifat adaptif. Menurutnya, fenomena ini tidak sekadar aktivitas jual beli, melainkan cerminan fleksibilitas ruang kota dalam merespons kebutuhan sosial dan budaya masyarakat saat Ramadhan.

Dari sisi ekonomi, stand takjil membuka peluang bagi pelaku usaha kecil, ibu rumah tangga, hingga keluarga yang ingin menambah penghasilan. “Ruang kota memiliki dimensi ekonomi yang bisa bergerak mengikuti momentum sosial seperti Ramadhan,” ujarnya.

Secara sosial, kawasan yang biasanya relatif lengang berubah menjadi ruang komunal spontan. Warga berkumpul, berinteraksi, dan menunggu waktu berbuka puasa. “Ini bukan sekadar aktivitas jual beli, tetapi juga ruang sosial yang hidup selama Ramadhan,” tambahnya.

Namun, ia mengingatkan adanya potensi dampak negatif apabila tidak ditata dengan baik. Penyempitan badan jalan, kemacetan sore hari, risiko kecelakaan akibat parkir dan penyeberang jalan, serta persoalan sampah menjadi tantangan yang perlu perhatian.

Sebagai solusi, La Ibal menawarkan konsep penataan terpusat bertajuk “Bakul Ramadhan”. Konsep ini mengusulkan pengelompokan pedagang dalam satu kawasan khusus yang telah direncanakan, sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengganggu lalu lintas dan fungsi jalan.

“Fenomena ini tidak perlu dilarang, tetapi dikelola secara kolaboratif antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat agar tertib, aman, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Dengan pengelolaan yang tepat, keberadaan pasar takjil musiman ini tidak hanya meminimalkan dampak negatif, tetapi juga berpotensi menjadi identitas khas Kota Sorong setiap bulan Ramadhan.(AAM)

Share this Post