Rektor UNAMIN Lanjutkan Kajian AIK, Tekankan Keikhlasan dan Kesesuaian Ibadah dengan Syariat

Sorong, 11 Maret 2026 — Rektor Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) Sorong, Dr. H. Muhammad Ali, MM., MH., kembali menyampaikan kajian rutin Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang dilaksanakan di Masjid Darul Ulum UNAMIN. Dalam kajian tersebut, beliau menekankan pentingnya keikhlasan dalam beribadah serta memastikan setiap amalan dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Dalam penyampaiannya, Dr. Muhammad Ali mengajak jamaah untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum refleksi diri. Ia mengingatkan bahwa ibadah puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga harus menghadirkan perubahan sikap dan kualitas keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, salah satu syarat utama diterimanya amal ibadah adalah niat yang ikhlas karena Allah SWT. Ia mengingatkan bahaya melakukan amal kebaikan semata-mata untuk mendapatkan pujian, kedudukan, atau keuntungan duniawi. Sebagai contoh, beliau menyampaikan kisah tentang tiga golongan manusia yang pertama kali diadili pada hari kiamat, yakni pejuang, penuntut ilmu, dan orang yang gemar bersedekah, namun amal mereka ditolak karena tidak dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT.

Selain keikhlasan, Dr. Muhammad Ali juga menegaskan bahwa setiap ibadah harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Ia menjelaskan bahwa amalan yang tidak memiliki dasar dari ajaran Islam akan tertolak, meskipun dianggap baik menurut akal manusia.

Dalam kajian tersebut, beliau juga menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan munculnya amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Di antaranya adalah kurangnya pemahaman terhadap dalil, tidak mengetahui tujuan syariat, mengikuti hawa nafsu, tidak mampu membedakan hadis sahih dan hadis daif, serta memahami ayat atau hadis yang bersifat samar tanpa kajian yang mendalam.

Lebih lanjut, Dr. Muhammad Ali menekankan pentingnya sikap moderat dalam beragama sebagaimana diajarkan dalam Muhammadiyah. Menurutnya, warga Muhammadiyah harus terbuka terhadap berbagai pandangan yang memiliki dasar dalil, tidak bersikap fanatik terhadap kelompok tertentu, serta mengedepankan proses tarjih atau memilih pendapat yang paling kuat berdasarkan Al-Qur’an dan hadis.

Beliau juga menyinggung pentingnya menjaga amanah serta meminta izin kepada orang tua dalam berbagai aktivitas, sebagai bentuk penghormatan dan tanggung jawab moral dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Muhammad Ali turut menjelaskan tentang keutamaan Laylatul Qadar, yaitu malam ketetapan yang lebih baik dari seribu bulan. Ia mengingatkan bahwa malam tersebut berpotensi terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sehingga umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada waktu tersebut.

Selain itu, beliau menegaskan bahwa pembahasan tentang agama harus didasarkan pada ilmu dan dalil yang kuat. Ia juga mengingatkan pentingnya manajemen waktu agar umat Islam tidak terlalu larut dalam urusan dunia sehingga melupakan kewajiban ibadah dan persiapan untuk kehidupan akhirat.

Di akhir kajian, Dr. Muhammad Ali mengajak jamaah untuk memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadan dengan memperbanyak ibadah, termasuk melaksanakan i’tikaf di masjid. Ia juga berharap ke depan kampus dapat memfasilitasi kegiatan i’tikaf bagi civitas akademika sebagai sarana meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.

Melalui kajian rutin AIK yang dilaksanakan di Masjid Darul Ulum UNAMIN, diharapkan civitas akademika dapat terus memperdalam pemahaman keislaman serta mengamalkan nilai-nilai Islam secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.(AAM)

Share this Post