Rektor UNAMIN Sorong Bahas Zakat Fitrah dan Makna Laylatul Qadar dalam Kajian AIK Ramadan
Sorong, 12 Maret 2026 — Rektor Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) Sorong, Dr. H. Muhammad Ali, MM., MH., kembali menyampaikan kajian rutin Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) usai Salat Zuhur pada Kamis di Masjid Darul Ulum UNAMIN. Dalam kajian tersebut, ia menekankan pentingnya memahami makna zakat fitrah, keikhlasan beribadah, serta upaya meraih nilai-nilai Laylatul Qadar pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Dalam penyampaiannya, Dr. Muhammad Ali mengajak jamaah untuk memanfaatkan sisa waktu bulan Ramadan dengan memperbanyak ibadah dan memperbaiki kualitas spiritual. Menurutnya, salah satu tanda seseorang merasakan keberkahan Ramadan adalah munculnya rasa sedih ketika bulan suci tersebut akan berakhir karena banyaknya keutamaan yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya.
“Jika seseorang merasa sedih karena akan berpisah dengan Ramadan, itu menjadi salah satu tanda bahwa ia merasakan nilai-nilai keberkahan di dalamnya,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan seorang muslim sejatinya bukan semata-mata karena berharap surga atau takut terhadap neraka, melainkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Ia mengutip pemikiran ulama seperti Rabiah Al-Adawiyah serta pandangan Buya Hamka yang menekankan bahwa ibadah dilakukan karena kesadaran akan kewajiban sebagai hamba.
Menurutnya, Allah SWT tidak membutuhkan ibadah manusia. Justru manusia yang membutuhkan ibadah sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam kajian tersebut, Dr. Muhammad Ali juga membahas tentang zakat fitrah yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim menjelang Hari Raya Idulfitri. Ia menjelaskan bahwa zakat fitrah merupakan zakat pribadi yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, termasuk anggota keluarga yang menjadi tanggungan.
Ia menyebutkan bahwa zakat fitrah bertujuan untuk menyucikan jiwa orang yang berpuasa serta membantu fakir miskin agar dapat merasakan kebahagiaan pada hari raya.
“Zakat fitrah juga menjadi sarana penyempurna ibadah puasa. Dengan zakat tersebut diharapkan kekurangan selama berpuasa dapat ditutupi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa zakat fitrah dapat dikeluarkan sejak awal Ramadan hingga sebelum pelaksanaan Salat Idulfitri. Namun demikian, penyalurannya perlu diatur dengan baik agar tepat sasaran dan benar-benar membantu masyarakat yang membutuhkan.
Dr. Muhammad Ali juga menekankan bahwa penerima zakat sebaiknya diprioritaskan kepada fakir dan miskin agar mereka tidak mengalami kesulitan menjelang hari raya. Dengan demikian, zakat fitrah dapat menjadi bentuk solidaritas sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain membahas zakat, ia juga mengingatkan jamaah tentang pentingnya menjaga hati dan niat dalam setiap amal ibadah. Menurutnya, Allah SWT menilai manusia bukan hanya dari perbuatannya, tetapi juga dari niat dan ketulusan hati dalam melaksanakan amal tersebut.
Di akhir kajian, Dr. Muhammad Ali mengajak seluruh civitas akademika UNAMIN untuk menjaga kebersamaan dan memperkuat semangat membangun kampus sebagai amal jariah bersama. Ia menegaskan bahwa kemajuan kampus tidak hanya bergantung pada satu pihak, melainkan merupakan tanggung jawab seluruh elemen di lingkungan universitas.
“UNAMIN adalah amanah kita bersama. Maju atau mundurnya kampus ini bergantung pada kebersamaan dan kontribusi kita semua,” ungkapnya.
Melalui kajian rutin AIK yang dilaksanakan selama bulan Ramadan ini, diharapkan civitas akademika UNAMIN dapat terus memperdalam pemahaman keislaman serta mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.(AAM)