Sinergi Petani dan Mahasiswa Unamin, Wujudkan Pertanian Ramah Lingkungan di Papua Barat Daya

Sorong, 27 April 2025 – Semangat inovasi pertanian berkelanjutan terus berkembang di Papua Barat Daya. Sugeng Riyanto, petani asal Kelurahan Matawolot, Distrik Salawati, Kabupaten Sorong, bersama mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin), berkolaborasi dalam menerapkan pupuk organik Super Bokashi MA-11 pada tanaman ubi jalar.

Uji coba ini dilakukan di lahan seluas 25 meter persegi milik Sugeng Riyanto, yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani Gajamulyo. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu (27/04/2025) di Desa Matawolot Katimin I, Distrik Salawati, Kabupaten Sorong.

Dalam upaya ini, Sugeng Riyanto menunjukkan keberaniannya untuk berinovasi dengan beralih dari penggunaan pupuk kimia ke pupuk organik. Kolaborasi bersama mahasiswa Unamin bertujuan memperkenalkan penggunaan Super Bokashi MA-11, pupuk organik yang difermentasi menggunakan aktivator Mikro Bakteri Alfafa 11 (MA-11).

Sugeng mengaku awalnya skeptis terhadap efektivitas pupuk organik. Namun setelah melihat hasilnya, ia merasa terkejut dan bangga.

"Setelah mencoba, tanaman ubi jalar kami jauh lebih baik. Lahan terasa lebih subur, dan hasil ubinya lebih besar dan hijau," ungkap Sugeng Riyanto.

Sulaiman Lisaholit, salah satu mahasiswa periset, menambahkan bahwa hasil dari demplot (demonstration plot) menunjukkan peningkatan hasil panen yang signifikan dibandingkan dengan metode konvensional berbasis pupuk kimia.

"Hasil kami jauh lebih baik dibandingkan pertanian biasa. Harapannya, adik-adik mahasiswa selanjutnya bisa melanjutkan penelitian ini untuk komoditas lain," tambah Sulaiman.

Kegiatan kolaboratif ini tidak hanya menjadi bagian dari penelitian akademik, tetapi juga bentuk nyata pemberdayaan petani setempat. Dosen pembimbing skripsi, Ajang Maruapey, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan pentingnya teknologi pertanian ramah lingkungan kepada para petani.

"Kami ingin petani memahami pentingnya pupuk organik dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ini langkah kecil menuju pertanian berkelanjutan," ujarnya dengan semangat.

Ajang, yang merupakan alumni Universitas padjadjaran (Unpad) Bandung, juga berharap metode ini ke depannya dapat diterapkan pada berbagai komoditas pangan dan palawija lainnya, seiring dengan pengembangan bidang pemuliaan tanaman.

Matawolot Katimin I sendiri dikenal sebagai salah satu sentra produksi ubi jalar terbesar di Kabupaten Sorong, yang memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di Provinsi Papua Barat Daya. Melalui inovasi penggunaan pupuk Super Bokashi MA-11, diharapkan produktivitas pertanian meningkat, sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.

Dengan terwujudnya sinergi antara petani dan mahasiswa, kegiatan ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi dapat menciptakan pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan ramah lingkungan untuk masa depan.[HIS]

Share this Post