Tata Cara Sholat Tarawih Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW
Sorong, 20 Februari 2026 — Sholat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang dilaksanakan setiap malam pada bulan Ramadhan setelah sholat Isya. Muhammadiyah menetapkan tata cara sholat Tarawih berdasarkan Al-Qur’an dan hadis sahih, dengan jumlah rakaat yang variatif serta merujuk pada praktik yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Sholat Tarawih adalah bagian dari qiyamul lail yang dikerjakan secara berjamaah maupun sendiri pada malam Ramadhan. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melaksanakan sholat malam sebanyak 11 rakaat, termasuk witir. Berdasarkan riwayat tersebut, pelaksanaan Tarawih yang lazim di lingkungan Muhammadiyah adalah 11 rakaat, terdiri atas 8 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir.
Meski demikian, jumlah rakaat Tarawih pada dasarnya tidak dibatasi secara tegas. Dalam praktik umat Islam, terdapat pula pelaksanaan 23 rakaat. Perbedaan tersebut dipahami sebagai bagian dari ijtihad yang memiliki dasar masing-masing. Prinsip yang ditekankan adalah menjaga kekhusyukan dan menghindari perdebatan, karena tujuan utama Tarawih adalah menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah.
Adapun tata cara pelaksanaan sholat Tarawih adalah sebagai berikut:
-
Dilaksanakan setelah sholat Isya dengan niat sholat sunnah Tarawih.
-
Dikerjakan dua rakaat-dua rakaat dengan satu salam setiap dua rakaat.
-
Membaca surah Al-Fatihah dan ayat atau surah Al-Qur’an pada setiap rakaat.
-
Setelah menyelesaikan rakaat Tarawih, dilanjutkan dengan sholat Witir tiga rakaat. Witir dapat dikerjakan dua rakaat salam kemudian satu rakaat salam, atau tiga rakaat sekaligus tanpa tasyahud awal.
- Dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, dan membaca Al-Qur’an setelah sholat.
Pelaksanaan Tarawih juga dianjurkan dilakukan dengan bacaan yang tartil dan tidak tergesa-gesa agar makna ayat dapat dihayati. Nabi Muhammad SAW mencontohkan sholat malam dengan penuh ketenangan dan kekhusyukan, sehingga kualitas ibadah menjadi perhatian utama.
Dengan memahami tata cara yang benar dan landasan dalilnya, umat Islam diharapkan dapat menjalankan sholat Tarawih dengan keyakinan dan ketenangan. Variasi jumlah rakaat hendaknya disikapi secara bijak, sehingga Ramadhan menjadi momentum peningkatan ketakwaan dan penguatan persaudaraan.(AAM)