Tiga Dosen Penjas Unamin Lolos Pendanaan Penelitian BIMA 2026 Kemendiktisaintek

Sorong,24 Juni 2026 — Senyum bangga sedang menghiasi Program Studi Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin). Tiga dosennya yaitu La Robi, S.Pd., M.Pd., Mukharrar Fadjri, S.Pd., M.Pd., AIFO., dan Agus Kurniadi berhasil menembus seleksi ketat pendanaan penelitian BIMA 2026 yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Sebuah kabar yang menegaskan satu hal: riset berkualitas bisa lahir dari ujung timur Indonesia.

BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) merupakan platform resmi tempat ribuan dosen dari seluruh penjuru tanah air berebut pendanaan riset nasional setiap tahun. Lolos di tengah persaingan se-Indonesia bukan perkara mudah dan tahun ini, nama dosen-dosen Penjas Unamin ikut tercantum di daftar penerima.

Salah satu peneliti yang lolos, La Robi, S.Pd., M.Pd., berkata :

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan bangga atas kepercayaan yang diberikan oleh Kemendiktisaintek melalui program pendanaan penelitian BIMA 2026.”

Penelitian yang membawa La Robi lolos mengangkat judul yang cukup menarik: “Efektivitas Pendekatan Deep Learning dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani melalui Integrasi Permainan Tradisional Papua terhadap Peningkatan Motorik Dasar Siswa.” Lewat riset ini, ia berupaya memadukan pendekatan pembelajaran kekinian dengan kekayaan budaya lokal yang mulai terlupakan.

“Fokus penelitian saya adalah mengkaji efektivitas pendekatan deep learning yang dipadukan dengan permainan tradisional Papua dalam meningkatkan kemampuan motorik dasar siswa. Penelitian ini berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan kemampuan gerak, tetapi juga bermakna dan dekat dengan budaya lokal peserta didik.”

Ide ini tidak datang begitu saja. Bagi La Robi, kemampuan motorik dasar adalah fondasi penting dalam pendidikan jasmani, sementara permainan tradisional Papua menyimpan potensi besar yang selama ini belum banyak dimanfaatkan di ruang kelas.

“Motorik dasar sangat penting sebagai fondasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Di sisi lain, pendekatan deep learning kini menjadi perhatian dalam dunia pendidikan karena menekankan pembelajaran yang mendalam, reflektif, dan bermakna. Saya melihat permainan tradisional Papua memiliki potensi besar untuk mendukung tujuan tersebut, sekaligus menjadi sarana pelestarian budaya lokal yang mulai jarang dimainkan oleh anak-anak generasi Papua.”

Di balik kabar baik ini ada proses panjang yang tidak instan. La Robi menuturkan, penyusunan proposal diawali dengan mengidentifikasi persoalan nyata di lapangan, dilanjutkan kajian literatur, penyusunan desain penelitian, hingga penyempurnaan berdasarkan masukan dari mentor yang difasilitasi lembaga penelitian Unamin serta diskusi dengan rekan sejawat. Ia bahkan menetapkan dua luaran sekaligus—luaran utama dan luaran tambahan demi memenuhi standar pengusulan tahun 2026.

Yang membuat capaian ini terasa istimewa bukan sekadar dananya, tapi makna di baliknya. Bagi La Robi, kelulusan ini adalah pembuktian.

“Kelulusan ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pendidikan jasmani. Capaian ini juga menjadi bukti bahwa dosen di daerah mampu menghasilkan penelitian yang kompetitif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya kita di Papua.”

Manfaat penelitian ini pun diharapkan melampaui ruang laboratorium akademik. Hasilnya ditargetkan dapat menjadi rujukan praktis bagi banyak pihak di Papua Barat Daya.

Keberhasilan La Robi bersama rekan-rekannya di Program Studi Pendidikan Jasmani menjadi angin segar bagi iklim riset di Unamin. Lebih dari itu, capaian ini mengirim pesan yang menggugah: anak-anak Papua tak hanya layak menjadi objek penelitian, tetapi juga mampu menjadi peneliti yang membanggakan bangsa. Sebuah langkah nyata mewujudkan semangat Unamin unggul, humanis, dan mencerahkan dari Sorong untuk Indonesia.(RL)

Share this Post