UNAMIN Bangga! Empat Mahasiswanya Berhasil Ikuti MYILP 2024 di Bali
Sorong, 3 Oktober 2025 - Program MYILP (Muhammadiyah Youth Interfaith Leadership Program) adalah sebuah program yang dirancang oleh DPP (Dewan Pimpinan Pusat) dan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) untuk mahasiswa non-Muslim. Program ini berlangsung mulai dari tanggal 13-15 Januari di BPMP (Balai Penjaminan Mutu Pendidikan) di Bali.
Program ini diikuti oleh sekitar 40 mahasiswa Muhammadiyah yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Tentunya, mengikuti kegiatan ini tidaklah mudah karena banyaknya pesaing dan serangkaian tes yang harus dipenuhi. Mahasiswa Muhammadiyah yang mendaftar diwajibkan membuat esai, surat kesanggupan mengikuti kegiatan, surat rekomendasi dari gereja, dan mengikuti tes wawancara yang diadakan oleh pihak panitia MYILP.
Akhirnya, empat mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) berhasil lolos dari serangkaian tes tersebut. Dengan penuh kebanggaan, UNAMIN mengirimkan empat mahasiswa yang sangat berkompeten untuk mengikuti kegiatan MYILP di Bali. Keempat mahasiswa tersebut adalah: Romario Erenst Sabatino Koffiay, Dyose Alexsander Piterson Wakaf, Alyad Augustin Gladiola Bosayor, dan Juan Jonas Davin Rumansara. Menurut mahasiswa tersebut, kegiatan MYILP sangat bermanfaat dalam melatih kepemimpinan seorang mahasiswa. Mereka juga menekankan bahwa kegiatan ini sangat berharga karena menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya.
Mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini diajarkan untuk menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Mereka menegaskan bahwa kegiatan MYILP berdampak positif bagi pandangan mereka terhadap Muhammadiyah yang bukan hanya sebagai organisasi Islam di Indonesia. Para mahasiswa berpendapat bahwa Muhammadiyah berhasil menyelenggarakan program MYILP dengan mengumpulkan mahasiswa dari seluruh Indonesia yang memiliki beragam latar belakang ras, agama, budaya, dan golongan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta dapat mengenal dan belajar tentang keberagaman serta kebudayaan dari sesama peserta MYILP. Mahasiswa UNAMIN juga diberikan ruang untuk berbicara mengenai bagaimana Muhammadiyah, yang notabene merupakan organisasi Islam, berhasil merambah sektor pendidikan dan mencerdaskan mahasiswa yang kompeten, khususnya mahasiswa Papua yang mampu bersaing di era digital.
Mereka juga diberikan kesempatan untuk membahas kasus intoleransi serta isu-isu sosial yang berkaitan dengan keberagaman. Mahasiswa UNAMIN dituntut untuk berpikir logis dan kritis. Banyak peserta yang berbagi pandangan, baik sisi positif maupun negatif tentang Muhammadiyah.
Selain itu, peserta belajar tentang kebudayaan serta ritual ibadah dari umat Hindu, Buddha, dan Katolik dengan bimbingan narasumber pemuka agama yang kompeten. Dengan demikian, mahasiswa sebagai peserta MYILP dapat memahami dan menghormati setiap kepercayaan dari berbagai kalangan.[IS]