Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri di Dunia Perkuliahan
Sorong, 07 April 2026 — Jadi mahasiswa itu kadang nggak seindah yang dibayangin dulu. Awalnya mungkin semangat—ngebayangin kehidupan kampus yang seru, banyak teman, bebas, dan penuh pengalaman baru. Tapi setelah dijalanin, ternyata ada banyak hal yang nggak sesederhana itu.
Ada fase di mana kita ngerasa capek, bingung, bahkan ngeragukan diri sendiri. Lihat teman yang kelihatannya lebih pintar, lebih aktif, lebih “jadi”, bikin kita tanpa sadar mulai bandingin diri. Dari situ pelan-pelan muncul pikiran, “Kenapa gue nggak bisa kayak mereka?”
Padahal, setiap orang punya jalannya masing-masing.
Di dunia perkuliahan, tekanan itu nyata. Deadline numpuk, tugas nggak ada habisnya, ditambah ekspektasi dari diri sendiri maupun orang lain. Kadang kita terlalu keras sama diri sendiri—harus selalu berhasil, harus selalu kuat, harus selalu terlihat baik-baik saja.
Padahal ya… kita juga manusia.
Nggak apa-apa kalau lagi capek. Nggak apa-apa kalau lagi nggak maksimal. Nggak apa-apa kalau butuh waktu buat berhenti sebentar.
Belajar berdamai dengan diri sendiri itu bukan berarti menyerah. Tapi lebih ke menerima bahwa kita punya batas. Bahwa kita nggak harus selalu sempurna.
Kadang yang kita butuhin bukan jadi lebih hebat, tapi jadi lebih jujur sama diri sendiri.
Ngaku kalau lagi lelah. Ngaku kalau lagi butuh istirahat. Ngaku kalau belum mampu. Dan itu bukan kelemahan—itu justru bentuk keberanian.
Di kampus, kita bukan cuma belajar soal materi. Tapi juga belajar tentang diri sendiri. Belajar ngerti kapan harus maju, kapan harus berhenti, dan kapan harus kasih ruang buat diri sendiri.
Karena pada akhirnya, perjalanan kuliah itu bukan lomba cepat-cepatan. Nggak ada garis finish yang harus dicapai bareng-bareng.
Yang penting, kamu tetap jalan… dengan cara kamu sendiri.
Pelan-pelan aja. Nggak harus sama seperti orang lain. Yang penting, kamu nggak kehilangan diri kamu sendiri di tengah semua kesibukan itu.(RL)