FKIP UNAMIN, Tuan Rumah PROFUNEDU 2022 : Muhammadiyah Gerbang Pengetahuan dan Penelitian

UNAMIN - VUCA adalah akronim untuk Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity. Istilah ini juga dapat diartikan sebagai gejolak, tidak pasti, kompleks, dan ambigu. Adanya krisis pasca pandemi Covid-19 membuat VUCA ini menjadi semakin intens dan sangat mempengaruhi dunia pendidikan.

ALPTK PTMA sebagai wadah asosiasi LPTK/ FKIP/ IKIP di bawah naungan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah bergerak cepat untuk dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi krisis tersebut dengan menyelenggarakan 7th Progressive and Fun Education International Conference pada Kamis (08/09/22) di Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN).

Konferensi ini mengangkat tema yaitu “Peranan Peneliti Pendidikan Dalam Menghadapi VUCA di Era Pandemi Covid 19”, yang harapanya dengan pelaksanaan konferensi ini dapat mendukung semua peneliti pendidikan di seluruh dunia untuk dapat berbagi dan menyebarluaskan penelitian mereka saat ini dalam rangka mendukung kesiapan pendidikan dalam menghadapi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity) pasca Pandemi Covid-19.

Pembukaan konferensi ini hadiri oleh, Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Dr. Muhammad Samsudin, S.Ag., M.Pd. Wakil Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno Ketua ALPTK PTMA, Dr. H. Muhammad Ali, MM., MH. Rektor Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN), jajaran pimpinan di lingkungan UNAMIN, serta perwakilan dari PTMA seluruh Indonesia dan beberapa Perguruan Tinggi lainnya.

Rektor Dr. H. Muhammad Ali, MM., MH. dalam sambutannya mengatakan “mewakili Universitas Muhammadiyah Sorong sebagai rektor saya ucapkan terima kasih dan apresiasi kepada semua peserta dan peneliti yang telah berpartisipasi pada konferensi hari ini, kegiatan hari ini dilaksanakan secara hybrid yang artinya sebagian dari peserta saat ini mengikuti kegiatan konferensi secara online.”

“Dengan dilaksanakannya konferensi internasional ini, diharapkan para peneliti memanfaatkan moment ini sebagai tantangan dan peluang dalam mengembangkan kualitas keilmuan yang dimiliki.” Ujar Rektor.

Konferensi ini menghadirkan 7 Pembicara dari 5 Negara antara lain, Prof. Amra Sabic-El-Reyes, Ph.D. (Columbia University, USA), Prof. Dr. Ratu Ilma Indra Putri (Universitas Sriwijaya, Indonesia), Prof. Dr. Chan Yuen Fook (Universiti Teknologi MARA, Malaysia), Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy (UIN Salatiga, Indonesia), Dr. Jenny Buckworth (Charles Darwin University, Australia), Dr. Parmin (Universitas Negeri Semarang, Indonesia), dan Dr. Gamal Abdul Nasir Zakaria (University of Brunei Darussalam, Brunei Darussalam).

Dalam sambutannya Ketua ALPTK PTMA Prof. Dr. Harun Joko Prayitno menyebutkan bahwa peserta pada konferensi internasional berjumlah 166 orang, 76 orang diantaranya berasal dari luar Perguruan Tinggi Muhammadiyah, hal ini merupakan bukti tingginya antusiasme para peneliti baik peneliti di PTMA maupun di luar PTMA.

“Profunedu memiliki tingkat peminatan yang sangat tinggi sehingga untuk kebutuhan publikasi profunedu sudah menjadi buruan, karena publikasi yang merupakan hasil dari konferensi Internasional akan di support untuk dapat di publikasikan pada jurnal-jurnal yang terindeks scopus, yang memiliki kualitas Q1 sampai dengan Q4.” jelas Ketua ALPTK PTMA dalam sambutannya.

Selain itu Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D mendukung penuh atas kegiatan konferensi Internasional yang dilakukan, menurutnya ALPTK PTMA yang merupakan wadah asosiasi LPTK/ FKIP/ IKIP di bawah naungan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah harus terus tanggap dan mempersiapkan diri terhadap tantangan yang terus terjadi.

Lebih lanjut Muhammad Sayuti menjelaskan bahwa “Menjadi guru di Papua itu tidak mudah, sehingga diharapkan Fakultas Keguruan Universitas Muhammadiyah bisa menjadi Gerbang Pengetahuan dan penelitian di bidang pendidikan.”

“Pelaksanaan konferensi Internasional yang diselenggarakan oleh ALPTK PTMA di Universitas Muhammadiyah Sorong diharapkan dapat menghasilkan penelitian-penelitian yang berkualitas yang dengan itu dapat memajukan pendidikan di Indonesia, tutup Muhammad Sayuti. [Humas/fr]

Share this Post