SEMINAR NASIONAL SEKOLAH AGRARIA: BERTINDAK INKLUSIF DAN LIBERATIF DI UNAMIN SORONG

Sorong, 26 September 2025 – Universitas Muhammadiyah Sorong menjadi tuan rumah Seminar Nasional Sekolah Agraria yang mengusung tema “Bertindak Inklusif dan Liberatif”. Acara yang berlangsung pada Jumat, 26 September 2025 ini dibuka dengan sambutan hangat dari Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, S.Sos., Anggota DPR RI Paul Finsen Mayor, S.IP., CM., NNLP, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Sorong, Dr. H. Muhammad Ali, MM., MH.

Seminar ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting serta narasumber berkapasitas tinggi yang memberikan wawasan mendalam seputar isu agraria dan ketimpangan ekonomi. Acara dimulai dengan video sambutan dari Dr. Busyro Muqoddas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang menyampaikan materi “Amanat PP Muhammadiyah”. Dalam sambutannya, beliau menyatakan rasa syukur atas terselenggaranya Sekolah Agraria ini sebagai wujud dari semangat gerakan Tajdid Muhammadiyah yang mendasarkan kebijakan pada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Dr. Busyro juga menekankan pentingnya kolaborasi positif antara Universitas Muhammadiyah Sorong dan LHKP PP Muhammadiyah, serta menyampaikan apresiasinya kepada mitra-mitra dari berbagai latar belakang, termasuk PG (Persatuan Gereja Nasional), KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia), Greenpeace, dan lembaga-lembaga lainnya. Beliau berharap hasil dari sekolah agraria ini dapat dirumuskan menjadi Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang implementatif dan berkontribusi dalam perbaikan kebijakan daerah di Papua dan Papua Barat Daya.

Pada sesi pertama, narasumber lainnya, Wisnu Try Utomo dari CELIOS, hadir langsung di Universitas Muhammadiyah Sorong untuk membahas “Ketimpangan Ekonomi & Agraria”. Dalam paparannya, Wisnu menyampaikan data terkait pengelolaan sumber daya alam di Indonesia yang menunjukkan kesenjangan penguasaan hingga 12% populasi saja. Hal ini, menurutnya, menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk mengambil langkah konkret dalam memperkecil jurang ketimpangan.

Sesi kedua menghadirkan dua narasumber: Orpa Barbalina Osok (MLA Malamoi) dan Kiki Taufik, Kepala Kampanye Global untuk Hutan Indonesia Greenpeace South East Asia. Keduanya menyampaikan materi tentang potret deforestasi, kerusakan lingkungan, serta solusi yang relevan untuk mengatasi krisis di tanah Papua.

Penutupan sesi pertama juga diwarnai dengan video dari Ahmad Imam Mujaid Rais, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, yang menyampaikan harapan agar tata kelola agraria terus berorientasi pada kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat luas.

Seminar Nasional Sekolah Agraria ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen berbagai pihak dalam menangani isu agraria secara inklusif dan liberatif. Dengan dukungan kolaborasi lintas sektor, hasil dari sekolah ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat Papua dan Indonesia pada umumnya.[CGS]

Share this Post