UNAMIN Gelar Sosialisasi dan Edukasi Karhutla, BMKG Ungkap pH Air Hujan Sorong Capai 4,31

Sorong, 4 November 2026 — Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Sorong menggelar Kuliah Umum Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kota dan Kabupaten Sorong di Aula Rektorat UNAMIN, Rabu (4/11/2026). Kegiatan ini diikuti mahasiswa UNAMIN, Ketua Program Studi Teknik Lingkungan UNAMIN, Nurbia, S.T., M.T., serta dosen pengampu mata kuliah dari Program Studi Teknik Lingkungan, Faridz Abdul Chalid Macap, S.T., M.Ling.

Kegiatan dibuka dengan sambutan Nurbia. Ia berharap kuliah umum ini menumbuhkan kepedulian mahasiswa terhadap permasalahan di sekitarnya, termasuk kesadaran bahwa menjaga hutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga tanggung jawab masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, saya berharap mahasiswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi agen perubahan dan pelopor kepedulian lingkungan terhadap masyarakat,” ujar Nurbia, S.T., M.T.

Usai sambutan, dua mahasiswa Teknik Lingkungan UNAMIN angkatan 2024, Firdha Alifa Amaliyana dan M. Rifai Sahempa, mempresentasikan hasil pengambilan data kualitas udara menggunakan alat TSP HVAS TFIA F2 di tiga titik, salah satunya di kampus UNAMIN.

Selepas presentasi mahasiswa, materi disampaikan oleh narasumber pertama, Krisnadi Pandu Wibowo, S.Tr.Klim., Pengamat Meteorologi dan Geofisika Pertama dari Tim Kerja Observasi dan Teknisi SPAG Sorong. Ia menyampaikan bahwa anomali suhu periode Agustus–Oktober 2026 mencapai +3,9, menandakan El Nino berintensitas sangat kuat yang memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko karhutla. Hasil pengukuran BMKG mencatat konsentrasi partikel udara di Sorong naik dari di bawah 200 menjadi 225 mikrogram per meter kubik saat asap karhutla, mendekati ambang batas 230 mikrogram per meter kubik. Pengujian sampel air hujan juga menunjukkan pH 4,31, di bawah kisaran normal 5,6–7.

“Hasil pengukuran menunjukkan bahwa derajat keasaman dari air hujan adalah 4,31, yang menandakan bahwa air hujan yang terjadi adalah air hujan asam karena mengandung pencemaran yang telah terjadi selama ini,” jelas Krisnadi.

Materi kemudian dilanjutkan oleh narasumber kedua, Ayu Diah Syafaati, S.Si., Pengamat Meteorologi dan Geofisika Muda dari Tim Kerja Data dan Informasi SPAG Sorong. Ayu menjelaskan, asap mulai muncul di Sorong sejak Agustus dan memuncak pada September–Oktober, sebagian terbawa angin dari Papua Barat dan Papua Selatan. Hujan pertama setelah kemarau panjang membawa turun polutan dari atmosfer melalui proses wet scavenging, sehingga tidak disarankan untuk ditampung dan digunakan.

“Jadi ketika air hujan pertama turun, jangan langsung ditampung, karena itu tidak bisa kita gunakan. Kita juga tidak bisa gunakan itu untuk menyiram tanaman. Kenapa? Karena dia akan memengaruhi pH dan kandungan yang ada di dalam tanah,” tutur Ayu.

Dengan El Nino yang diperkirakan berlanjut hingga awal tahun depan, BMKG dan UNAMIN mendorong mahasiswa menjadi garda depan penyebaran informasi pencegahan dan dampak karhutla kepada keluarga serta masyarakat di sekitarnya.

Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Edukasi tentang bahaya asap dan air hujan asam bagi kesehatan mendukung tujuan ke-3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Keterlibatan mahasiswa dalam pengukuran dan pemaparan data kualitas udara mencerminkan tujuan ke-4, Pendidikan Berkualitas. Pemahaman tentang El Nino dan antisipasi kemarau panjang menjawab tujuan ke-13, Penanganan Perubahan Iklim. Upaya pencegahan kebakaran di kawasan hutan dan lahan mendukung tujuan ke-15, Ekosistem Daratan, sementara kolaborasi UNAMIN dan BMKG memperkuat tujuan ke-17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (AAM)

Share this Post