Literasi di Era Digital: Jangan Jadi Pembaca Pasif
Sorong, 02 Maret 2026 — Sekarang ini, tiap hari kita dibanjiri info. Bangun tidur buka HP, scroll media sosial. Di kampus pun materi, jurnal, berita, semuanya serba online. Tapi pertanyaannya, kita cuma baca… atau benar-benar paham?
Di era digital, literasi bukan cuma soal bisa baca dan nulis. Literasi itu soal gimana kita ngerti isi informasi, bisa bedain mana yang valid, mana yang cuma opini, bahkan mana yang hoaks. Kalau cuma asal share tanpa cek, itu namanya jadi pembaca pasif. Datang, lihat, percaya. Padahal mahasiswa nggak boleh kayak gitu.
Mahasiswa harus punya kebiasaan baca yang kritis. Jangan langsung setuju sama judul yang provokatif. Jangan gampang terpengaruh potongan video yang belum tentu lengkap. Biasain tanya: sumbernya dari mana? Datanya jelas nggak? Ada sudut pandang lain nggak? Sikap kayak gini penting banget, apalagi buat yang sering bikin karya ilmiah atau opini publik.
Literasi juga nyambung sama kemampuan nulis. Semakin banyak kita baca dengan sadar, semakin tajam juga cara kita menyampaikan ide. Mahasiswa yang aktif baca dan nulis biasanya lebih percaya diri saat diskusi, presentasi, atau debat. Bukan karena paling pintar, tapi karena punya dasar argumen yang kuat.
Di kampus, budaya literasi harus terus dibangun. Mulai dari hal simpel: baca jurnal sebelum kelas, aktif diskusi, ikut lomba karya tulis, sampai berani publikasi. Jangan tunggu sempurna dulu baru mulai. Justru proses membaca dan menulis itu yang bikin kita berkembang.
Jadi di tengah derasnya arus informasi, jangan cuma jadi penonton. Jangan cuma jadi pembaca pasif. Jadilah mahasiswa yang sadar, kritis, dan bertanggung jawab dalam menyerap dan menyebarkan informasi. Karena di era digital ini, yang unggul bukan yang paling cepat share, tapi yang paling cerdas memahami.(RL)