Apakah Kita Hidup untuk Diri Sendiri atau untuk Dilihat Orang?
Sorong, 19 April 2026 —
Setiap mahasiswa menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda. Ada yang fokus pada tujuan pribadi, ada juga yang tanpa sadar lebih sibuk memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain. Pertanyaan ini menjadi relevan di era sekarang, ketika media sosial membuat batas antara kehidupan pribadi dan penilaian publik semakin tipis. Tanpa disadari, banyak aktivitas yang kita lakukan bukan lagi karena kebutuhan diri, tetapi karena ingin diakui.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori kebutuhan sosial, di mana manusia memang memiliki dorongan untuk diterima dan dihargai oleh lingkungannya. Namun, ketika kebutuhan tersebut menjadi dominan, orientasi hidup bisa bergeser. Mahasiswa yang awalnya belajar untuk mengembangkan diri bisa berubah menjadi lebih fokus pada citra, seperti bagaimana tampil di depan teman, bagaimana unggahan terlihat menarik, atau seberapa banyak respon yang didapatkan.
Dalam kehidupan kampus, hal ini sering terlihat dalam berbagai bentuk. Misalnya, mengikuti kegiatan bukan karena minat, tetapi karena terlihat keren. Atau mengunggah aktivitas belajar bukan untuk berbagi, melainkan untuk menunjukkan kesibukan. Secara tidak langsung, hal ini menciptakan tekanan sosial yang membuat seseorang merasa harus selalu “terlihat baik” di mata orang lain, meskipun kondisi sebenarnya tidak selalu demikian.
Dari perspektif psikologis, kondisi ini dapat memicu ketidakseimbangan antara diri nyata dan diri yang ditampilkan. Ketika seseorang terlalu fokus pada penilaian eksternal, ia cenderung kehilangan arah internalnya. Akibatnya, muncul perasaan tidak puas, cemas, bahkan rendah diri ketika ekspektasi sosial tidak terpenuhi. Ini menunjukkan bahwa hidup yang terlalu bergantung pada pandangan orang lain justru berisiko mengganggu kesehatan mental.
Sebaliknya, hidup untuk diri sendiri bukan berarti mengabaikan orang lain. Hal ini lebih kepada memahami tujuan, mengenali potensi, dan mengambil keputusan berdasarkan nilai pribadi. Mahasiswa yang memiliki orientasi ini cenderung lebih stabil secara emosional dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial. Mereka tetap bisa berinteraksi dan berkontribusi, tetapi tidak kehilangan jati diri.
Pada akhirnya, pertanyaan ini bukan tentang memilih salah satu secara mutlak, tetapi tentang keseimbangan. Kita tetap membutuhkan pengakuan sosial, tetapi tidak boleh menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan hidup. Hidup yang ideal adalah ketika kita mampu berkembang sesuai dengan diri sendiri, sambil tetap menjaga hubungan sosial secara sehat. Dengan begitu, kita tidak hanya terlihat baik di mata orang lain, tetapi juga merasa utuh dalam diri sendiri.(RL)