Cek Kesehatan Gratis Hadir di UNAMIN Sorong, Civitas Akademika Jalani Deteksi Dini
Sorong, 24 Juni 2026 — Rabu pagi, Lobby Rektorat Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN Sorong) berubah rupa. Meja-meja pemeriksaan berjajar, alat tensi dan pengukur gula darah disiapkan, dan satu per satu dosen, pimpinan kampus, hingga staf datang mengantre — bukan untuk rapat, melainkan untuk memeriksakan kesehatan mereka tanpa dipungut biaya.
Pagi itu UNAMIN Sorong menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digerakkan oleh Puskesmas Malaimsimsa. Program ini menyasar seluruh civitas akademika kampus, mulai dari jajaran pimpinan, dosen, hingga tenaga kependidikan. Lebih dari sekadar pemeriksaan kesehatan biasa, CKG dirancang sebagai upaya deteksi dini terhadap penyakit yang kerap tak disadari oleh pengidapnya sendiri.
Program ini dipimpin oleh Ns. Besty, S.Kep., M.Kes., penanggung jawab tim dari Puskesmas Malaimsimsa. Ia menjelaskan bahwa upaya promotif dan preventif selama ini masih kurang — kebanyakan orang baru memeriksakan diri setelah jatuh sakit. Melalui CKG, tim melakukan penyaringan untuk menangkap kondisi seperti tekanan darah tinggi atau gula darah tinggi yang kerap tidak disadari pengidapnya, untuk kemudian diteruskan ke puskesmas guna tindakan selanjutnya. Yang ditekankan Besty, CKG bukan kegiatan kuratif atau pengobatan, melainkan penyaringan untuk menemukan masalah kesehatan sedini mungkin.
Besty menjelaskan, program ini memiliki alur yang terstruktur dan tidak berhenti di meja pemeriksaan.
Alurnya, peserta mendaftar, lalu kami masukkan ke Kementerian. Nanti peserta mendapat link CKG untuk mengisi screening mandiri. Setelah itu dilakukan pemeriksaan sesuai item pemeriksaan, kami input lagi, lalu kami kirimkan rapornya. Jadi semua peserta CKG akan menerima rapor pemeriksaan beserta rekomendasi tindak lanjutnya.
Yang membuat program ini penting, kata Besty, adalah banyaknya orang yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi atau diabetes. Ia berbagi pengalaman di lapangan: pernah menemukan peserta dengan kadar gula darah mencapai 400 yang awalnya menolak hasil pemeriksaan. Setelah ditelusuri melalui riwayat keluarga dan pemeriksaan gula darah puasa ulang, hasilnya memang tinggi, sehingga peserta tersebut harus menjalani terapi.
Kalau dia masuk kategori sehat, ya dipertahankan status sehatnya. Kalau sakit, jangan sampai komplikasi. Karena kalau sudah komplikasi, beban negara semakin tinggi — pengobatan kronis seperti diabetes dan hipertensi itu mahal.
Pemeriksaan tak berhenti pada keluhan fisik. Aspek kesehatan jiwa turut diperiksa, meski Besty mengakui bagian inilah yang paling sering ditolak peserta — banyak yang merasa tidak sedang stres, padahal hasil penyaringan berkata lain. Ia menegaskan bahwa puskesmas dalam program ini berperan melakukan penyaringan, bukan pengobatan. Peserta yang membutuhkan penanganan lebih jauh, mulai dari karies gigi hingga keluhan penyakit dalam, akan dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) atau dokter terkait. Besty pun berharap peserta CKG menindaklanjuti rapor dan rekomendasi yang diberikan, agar manfaat program benar-benar terasa.
Bagi UNAMIN Sorong, kehadiran CKG menjadi pengingat hangat bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar. Dengan deteksi dini, seluruh civitas akademika diharapkan tetap bugar dan produktif — sejalan dengan semangat kampus yang Unggul, Humanis, dan Mencerahkan.(AF)