Khutbah Idul Adha di UNAMIN: Abdul Mu'ti Urai Lima Teladan Ibrahim untuk Umat dan Bangsa

Sorong, 28 Mei 2026 — Di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi halaman Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN), Prof. Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed. menyampaikan khutbah Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 Hijriyah pada Rabu, 27 Mei 2026 yang sarat makna. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengajak seluruh jamaah menyelami lima dimensi ibadah dan lima keteladanan Nabi Ibrahim AS — pelajaran yang ia sebut masih sangat relevan bagi kehidupan umat Islam di Indonesia hari ini.

Dalam khutbahnya, Prof. Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa ibadah Idul Adha dan kurban bukan sekadar ritual tahunan. Ia menegaskan bahwa ibadah dalam Islam memiliki lima dimensi yang saling terkait: sejarah pensyariatan, niat, tata cara, hikmah, dan kemaslahatan. Menurutnya, ibadah yang dipahami secara utuh akan melahirkan muslim yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.

Lima keteladanan Nabi Ibrahim AS menjadi inti khutbah pagi itu. Pertama, kekokohan akidah — Ibrahim berani tampil beda dan berhadapan dengan tekanan sosial bahkan ancaman fisik demi menjaga kemurnian tauhidnya. Kedua, kecintaan kepada keluarga — bagaimana Ibrahim, Hajar, dan Ismail saling menopang dalam kondisi yang jauh dari mudah, menjadi cermin keluarga yang harmonis dan berdakwah bersama. Ketiga, semangat membangun peradaban — Ibrahim yang memulai kehidupan di lembah tandus Makkah dengan penuh optimisme, bukan menyalahkan keadaan, tetapi menjadi problem solver.

Keteladanan keempat adalah menjadi pribadi yang tidak hanya salih untuk dirinya sendiri, tetapi juga muslih — menciptakan kebaikan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Prof. Abdul Mu'ti mengutip doa Ibrahim dalam Surah Ibrahim, di mana sang nabi memohon agar keturunan dan masyarakatnya senantiasa mendirikan sholat dan bersyukur kepada Allah. Keteladanan kelima adalah tentang legasi — hidup bukan sekadar angka usia, tetapi tentang warisan amal soleh yang manfaatnya melampaui batas waktu dan generasi.

"Ibadah kurban itu disyariatkan bukan hanya untuk penyembelihan belaka. Yang sampai kepada Allah bukanlah daging hewan kurban yang kita sembelih, tetapi takwa kita. Layyanallahu luhumuha wala dima'uha wa lakin yanaaluhu taqwa minkum. Karena itu marilah kita jadikan ibadah ini sebagai momentum untuk menumbuhkan jiwa rela berkorban — tidak hanya menjadi orang yang baik, tetapi menciptakan kebaikan di mana pun kita berada." — Prof. Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed., Khatib Idul Adha 1447 H, Universitas Muhammadiyah Sorong

Di penghujung khutbahnya, Prof. Abdul Mu'ti menyentuh dimensi kebangsaan. Dalam situasi kehidupan Indonesia yang penuh tantangan, ia mengajak jamaah meneladani semangat hijrah Ibrahim — bukan lari dari masalah, melainkan membangun solusi dengan optimisme dan jiwa besar. Ia juga mengingatkan agar umat Islam menghindari sikap suka menyalahkan orang lain tanpa solusi, dan sebaliknya tampil sebagai pembawa rahmat dan pembangun peradaban.

Khutbah yang disampaikan langsung oleh Menteri Abdul Mu'ti di halaman UNAMIN pagi itu bukan sekadar ceramah ritual. Ia adalah pengingat bahwa setiap insan — di kota mana pun, di lembah sepahit apa pun — bisa menjadi Ibrahim kecil: membangun, berkorban, dan mewariskan kebaikan. Bagi sivitas akademika UNAMIN dan keluarga besar Muhammadiyah Papua Barat Daya yang hadir, pesan itu terasa seperti bekal untuk satu tahun ke depan.(AF)

Share this Post