Kuliah Jalan, Podium Nasional Dapat: Belajar dari Dua Srikandi Karate Unamin

Sorong,07 Juni 2026 — Pernah nggak, kamu merasa 24 jam sehari itu kurang? Tugas numpuk, jadwal kuliah padat, dan tiap kali ada ajakan ikut kegiatan, jawabannya selalu sama: “duh, nggak sempat.” Nah, sebelum kalimat itu keluar lagi, kenalan dulu sama dua mahasiswi Unamin ini. Jadwal mereka jauh lebih gila dari kita — tapi mereka baru saja pulang dari Tangerang membawa medali nasional.

Mereka adalah Santi Rachman, yang merebut Juara I Kumite Perorangan Senior +68 kg Putri, dan Istiqomah Rachman, peraih Juara III Kumite Perorangan Senior -68 kg Putri. Keduanya naik podium di Kejuaraan Karate Nasional Piala Kapolri kategori POLRI & OPEN 2026 — bagian dari Pekan Olahraga Polri dalam rangkaian Pembinaan Tradisi Peringatan ke-80 Hari Bhayangkara — yang digelar di GOR Nambo Jaya Sport Center, Kota Tangerang, Banten, 25–28 Juni 2026.

Bayangkan: bertanding di level nasional, satu arena dengan atlet-atlet dari seluruh Indonesia, membawa nama kampus dari ujung timur negeri. Dan mereka pulang dengan kepala tegak. Gimana caranya? Duduk yang nyaman, Sobat Unamin — cerita mereka penuh pelajaran yang bisa kamu curi buat hidupmu sendiri.

Nggak Ada Podium yang Instan

Yang kita lihat cuma momen tangan diangkat wasit dan medali dikalungkan. Yang nggak kita lihat: minggu-minggu penuh keringat sebelum berangkat.

“Kami melakukan persiapan yang cukup ketat selama beberapa minggu. Latihan fisik dan teknis dilakukan setiap hari, ditambah pemulihan, serta latihan mental. Semua dilakukan secara disiplin dengan dukungan penuh dari pelatih dan pimpinan serta pihak kampus yang mendukung. Syukurlah hasilnya dapat podium, meskipun belum maksimal,” cerita Istiqomah.

Catat bagian ini: latihan setiap hari. Bukan pas mood datang, bukan pas deadline sudah di depan mata. Setiap. Hari. Kalau dipindahkan ke dunia kuliahmu, ini seperti nyicil belajar tiap malam ketimbang sistem kebut semalam — nggak glamor, tapi terbukti naik podium.

Cedera, Cuaca, dan Alasan untuk Menyerah yang Mereka Tolak

Jalan mereka juga nggak mulus. Ada cedera ringan yang datang justru saat latihan, plus cuaca yang kurang bersahabat. Kalau mau, itu semua bisa jadi alasan sempurna untuk mundur.

“Tantangan terbesar kami beberapa cedera ringan saat latihan dan cuaca yang kurang mendukung. Tapi alhamdulillah, dengan kerja keras dan doa, kami bisa mengatasinya dan tetap meraih hasil untuk dibawa pulang,” ujarnya.

Begitu pertandingan usai dan hasil diumumkan, semua rasa lelah itu terbayar. “Yang pertama muncul di pikiran adalah ‘Alhamdulillah, kita dapat podium!’ Langsung saya syukuri dan cari rekan-rekan untuk merayakan. Lega setelah perjuangan panjang,” kenang Istiqomah.

Rahasia yang Paling Sering Ditanya: Gimana Bagi Waktunya?

Ini dia pertanyaan sejuta umat. Kuliah aja sudah bikin ngos-ngosan, apalagi ditambah latihan tiap hari plus persiapan kejuaraan nasional. Jawaban Istiqomah ternyata sederhana — dan bisa banget kamu tiru mulai besok pagi.

“Saya menggunakan agenda harian dan disiplin yang tinggi agar semuanya bisa berjalan. Tentu saja kadang ada benturan, tapi dengan komunikasi yang baik kepada pelatih dan dosen, alhamdulillah selama ini semua pihak mendukung,” katanya.

Dua kuncinya: agenda harian dan komunikasi. Punya jadwal tertulis bikin kamu nggak perlu mikir ulang tiap hari mau ngapain. Dan kalau ada bentrok? Ngomong baik-baik — ke dosen, ke pembina, ke siapa pun. Kebanyakan masalah mahasiswa sebenarnya bukan karena nggak mampu, tapi karena nggak ngomong.

Nggak Ada Juara yang Berjalan Sendirian

Satu hal yang bikin cerita ini makin hangat: mereka nggak pernah mengklaim ini prestasi sendirian.

“Saya sangat menghargai peran pelatih sebagai sosok paling berpengaruh. Beliau yang membimbing, mengoreksi, dan memotivasi kami setiap hari. Selain itu, dukungan dari pimpinan universitas yang memberikan waktu, serta teman-teman dan keluarga juga sangat besar artinya,” tuturnya.

Jadi kalau kamu punya mimpi besar, jangan gengsi cari mentor dan lingkaran yang mendukung. Di Unamin, pintu itu terbuka — pelatih, dosen, sampai pimpinan kampus terbukti pasang badan buat mahasiswa yang mau berjuang.

Juara, Tapi Masih Lapar

Yang keren, dua srikandi ini nggak berhenti di sini. “Senang dan bersyukur sekali meskipun di posisi Juara III. Ini buah dari latihan serta doa teman-teman semua. Kami bangga, tapi tetap lapar prestasi. Insyaallah akan lebih baik lagi ke depannya,” kata Istiqomah, yang mengaku masih banyak ruang untuk berkembang dan akan terus berlatih lebih keras memperbaiki kekurangan.

Pesan Buat Kamu, Sobat Unamin

Sebelum menutup obrolan, Istiqomah menitipkan pesan yang rasanya pas banget ditempel di dinding kamar kos:

“Untuk teman-teman, pesan saya: disiplin dan konsistensi adalah fondasi utama. Seimbangkan antara kuliah, latihan, dan kehidupan sehari-hari. Jangan takut gagal, karena setiap kegagalan adalah pelajaran. Mulailah dari langkah kecil, tapi lakukan dengan sungguh-sungguh. Prestasi akan datang pada waktunya.”

Jadi, Sobat Unamin — bidangmu mungkin bukan karate. Mungkin kamu jago nulis, ngoding, debat, atau bisnis kecil-kecilan. Tapi rumusnya sama: agenda harian, disiplin, berani komunikasi, dan lingkaran yang mendukung. Santi dan Istiqomah sudah buktikan dari matras Tangerang bahwa mahasiswa Sorong bisa berdiri di podium nasional. Sekarang giliran kamu — mulai dari langkah kecil hari ini.(RL)

Share this Post