Melepas Nyenyak Tidur untuk Mengejar Malam Penuh Kemuliaan

Sorong, 17 Maret 2026 — Tahu tidak, semakin mendekati akhir Ramadan, tubuh justru terasa lebih sering mengantuk? Mahasiswa, dosen, dan seluruh umat muslim merasakan kondisi tersebut saat berupaya menghidupkan sepuluh malam terakhir dengan mengurangi waktu tidur demi meraih keutamaan Lailatul Qadr. Meski rasa lelah meningkat, momen ini tetap dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah dan meningkatkan kualitas spiritual.

Fenomena meningkatnya rasa kantuk selama menjalankan ibadah puasa menjadi hal yang umum dirasakan. Secara jasmani, tubuh mengalami perubahan pola tidur akibat aktivitas sahur di dini hari serta peningkatan ibadah malam. Selain itu, berkurangnya asupan energi di siang hari membuat tubuh cenderung menghemat energi, sehingga rasa lelah dan kantuk lebih sering muncul. Ritme sirkadian tubuh pun ikut terganggu, karena waktu istirahat yang tidak teratur.

Di sisi lain, secara fisiologis, kadar gula darah yang lebih rendah saat berpuasa juga berkontribusi terhadap menurunnya fokus dan meningkatnya rasa kantuk. Tubuh beradaptasi dengan kondisi ini dengan memperlambat aktivitas metabolisme, sehingga mendorong keinginan untuk beristirahat lebih banyak.

Meski demikian, dalam perspektif ajaran Islam, upaya mengurangi tidur demi menghidupkan malam memiliki landasan yang kuat. Dalam Al-Qur’an, Lailatul Qadr disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3). Selain itu, dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, dijelaskan bahwa menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan ibadah dan penuh keimanan akan menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

Dengan memahami kondisi tubuh sekaligus landasan agama, mahasiswa berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan fisik dan spiritual. Mengatur waktu istirahat, menjaga asupan nutrisi saat sahur dan berbuka, serta tetap menjaga konsistensi ibadah menjadi langkah penting agar ibadah tetap optimal tanpa mengabaikan kesehatan.

Melalui kesadaran tersebut, pengorbanan waktu tidur tidak hanya menjadi bentuk kelelahan semata, tetapi juga wujud kesungguhan dalam meraih malam penuh kemuliaan yang dinantikan setiap Ramadan.(AAM)

Share this Post