Rupiah Tembus Rp18.000: Pakar Unamin Ungkap Dampak Nyata bagi Masyarakat dan UMKM Papua Barat Daya

Sorong,10 Juni 2026 — Angka itu sudah resmi terlampaui.Pada 4 Juni 2026, nilai tukar rupiah menyentuh Rp18.027 per dolar Amerika Serikat — salah satu posisi terlemah dalam sejarah mata uang Garuda. Di Sorong, kabar itu bukan sekadar berita dari Jakarta. Dosen Manajemen Keuangan Universitas Muhammadiyah Sorong (Unamin Sorong), yaitu Dr. Wisang Candra Bintari, S.E., M.M., langsung membaca alarm yang menyertainya.

Pelemahan rupiah ini bukan tiba-tiba. Secara year-to-date, rupiah sudah terdepresiasi lebih dari 8 persen sejak awal 2026, dari posisi Rp16.725 di awal Januari.Tekanan datang dari berbagai penjuru : konflik geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas mendorong investor global beralih ke aset aman berupa dolar AS, suku bunga The Fed yang bertahan tinggi memicu arus modal keluar dari negara berkembang,serta tekanan fiskal domestik yang turut mengusik kepercayaan pasar.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan serta Bursa Efek Indonesia mencatat,total arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik sepanjang Januari–Mei 2026 telah mencapai Rp69,5 triliun.Rebalancing besar MSCI pada Mei 2026 yang mengeluarkan enam saham Indonesia dari indeks globalnya ikut menambah tekanan.

“Menurut saya, ada dua tekanan besar yang bekerja secara bersamaan.Dari luar, dolar menguat karena investor global mencari perlindungan di tengah ketegangan geopolitik.Dari dalam, kondisi fiskal kita yang tengah mendapat sorotan pasar ikut melemahkan kepercayaan investor terhadap rupiah. Pengaruh kondisi global terhadap kenaikan nilai dolar saat ini bisa mencapai 70 hingga 80 persen dari total faktor pembentuk tren.”

— Wisang Candra Bintari, S.E., M.M., Dosen Manajemen Keuangan Unamin

Bagi masyarakat Papua Barat Daya, pelemahan rupiah bukan angka abstrak. Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk bahan baku pangan, BBM, serta komponen produksi.Ketika dolar naik, biaya seluruh rantai pasok ikut merangkak.Harga pupuk dan pakan ternak naik menjepit petani dan nelayan. Ongkos logistik membebani distributor.Di ujung rantai, harga di pasar dan warung yang menanggung semuanya.

“Banyak barang yang dipakai warga dan harganya sangat dipengaruhi nilai tukar dolar, mulai dari BBM, LPG, pupuk, obat, pakan ternak, alat pertanian, bahan pangan impor, sampai ongkos logistik.Kalau rupiah melemah, biaya impor naik, biaya produksi naik, lalu pelan-pelan masuk ke harga barang di pasar atau warung.”

— Wisang Candra Bintari, S.E., M.M.

Sektor UMKM turut menanggung beban yang tidak ringan. Pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor harus mengeluarkan modal lebih besar untuk volume yang sama.Margin keuntungan tergerus karena mereka tidak bisa langsung menaikkan harga jual demi mempertahankan pelanggan.Fenomena shrinkflation — ukuran produk mengecil sementara harga tetap atau naik — mulai terlihat di berbagai UMKM kuliner.

“Sektor usaha dan UMKM sangat terdampak. Lonjakan biaya produksi, penurunan daya beli masyarakat, hingga potensi keuntungan yang menipis menjadi tantangan nyata. UMKM yang bahan bakunya bergantung pada impor harus mengeluarkan modal lebih besar untuk jumlah atau volume barang yang sama.”

— Wisang Candra Bintari, S.E., M.M.

Meski tekanan terasa berat,Wisang menegaskan Indonesia tidak sedang menuju krisis. Pemerintah tetap menyiapkan berbagai stimulus,termasuk insentif industri manufaktur dan percepatan realisasi belanja negara.Bank Indonesia sendiri telah menaikkan suku bunga acuan sebagai respons terhadap tekanan nilai tukar. Target pertumbuhan ekonomi 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027 masih dipertahankan sebagai orientasi jangka panjang.

Di tengah ketidakpastian ini, Wisang justru melihat momentum penting bagi generasi muda. Mahasiswa Unamin dinilai memiliki peran strategis,bukan sebagai penonton kondisi ekonomi, tetapi sebagai agen perubahan yang aktif.

“Bagi anak-anakku mahasiswa yang sedang studi : kondisi ekonomi saat ini bukan alasan untuk diam.Literasi keuangan sangat penting di masa sekarang. Kembangkan potensi non-akademik,soft skill,dan jadilah bagian dari solusi. Kalian bisa berkontribusi dalam pengembangan ide dan usaha di bidang teknologi,kuliner, barang dan jasa. Melalui kemampuan analisis keuangan, pendampingan UMKM,serta edukasi literasi keuangan, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang membantu menciptakan ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.”

— Wisang Candra Bintari, S.E., M.M., Dosen Manajemen Keuangan Unamin

Bagi Papua Barat Daya, pesan itu terasa relevan.Di tengah dolar yang terus menguat dan harga-harga yang merangkak, ketahanan ekonomi tidak datang dari menunggu — melainkan dari kesiapan membaca kondisi,mengelola keuangan dengan bijak,dan membangun usaha yang tangguh dari bawah.(RL)

Share this Post